Penangkapan tersebut dilakukan setelah muncul kecurigaan terhadap serangkaian hasil buruk yang diraih Timnas Laos selama babak penyisihan grup Piala AFF 2026.
Soukphachan, yang saat ini membela klub Salavan United di kompetisi domestik, diduga menjadi penghubung antara sindikat judi asal Vietnam dan para pemain Timnas Laos.
Menurut laporan The Guardian, pemain berusia 24 tahun tersebut bertugas menyampaikan instruksi dan mengarahkan rekan-rekan setimnya di lapangan sesuai permintaan bandar judi.
Pemeriksaan intensif dilakukan setelah Laos menyelesaikan pertandingan terakhir Grup B melawan Myanmar pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Hasil Mencurigakan di Fase Grup B
Performa Laos pada ASEAN Championship 2026 menurun drastis dibandingkan edisi sebelumnya. Di bawah asuhan pelatih asal Serbia, Vladica Grujic, Laos menelan empat kekalahan beruntun di Grup B dengan hasil sebagai berikut:
- Kalah 0-5 dari Thailand
- Kalah 0-4 dari Malaysia
- Kalah 1-4 dari Filipina
- Kalah 2-7 dari Myanmar
Hasil tersebut kontras dengan pencapaian Laos pada edisi dua tahun sebelumnya. Saat itu, Laos mampu mencetak tujuh gol dan menahan imbang tim-tim kuat seperti Indonesia dan Filipina.
Gaji Rendah Bikin Pemain Laos Rentan Godaan Sindikat Judi
Skandal pengaturan skor bukan kali pertama mencoreng sepak bola Laos. Masalah finansial diduga menjadi salah satu faktor yang membuat pemain rentan tergiur tawaran uang dari sindikat judi.
Seorang sumber yang berpengalaman luas di sepak bola Laos menyebut rendahnya kesejahteraan pemain membuat mereka mudah terpengaruh.
"Para pemain sempat hanya dibayar sekitar 10 dollar AS (sekitar Rp 170.000) per hari saat membela tim nasional. Kondisi ini membuat mereka sangat rentan tergiur imbalan hingga ribuan dollar AS dari bandar judi ilegal," ungkap seorang sumber seperti dikutip melalui The Guardian.
Sumber itu menambahkan, seorang pemain bahkan pernah mengaku menerima imbalan sebesar 10.000 dollar AS atau sekitar Rp 170 juta untuk mengatur hasil satu pertandingan.
(Ahmad Raul)