Skandal ini mencuat setelah hasil audit pemerintah Korea Selatan yang sebelumnya tidak dipublikasikan mengungkap dugaan pemberian layanan seksual kepada wasit asing yang datang ke Korea Selatan untuk memimpin pertandingan internasional.
Menurut laporan The Korea Times, para pejabat yang terlibat mendatangkan wasit asing pada periode 2010 dan 2011 untuk pertandingan kualifikasi Olimpiade London 2012 dan Piala Dunia 2014. Biaya untuk layanan tersebut disebut dibayarkan menggunakan kartu kredit perusahaan milik asosiasi.
Polisi Sebut Masa Kedaluwarsa Sudah Lewat
Perkembangan terbaru datang dari Korean National Police Agency. Polisi menyatakan tidak ada tindakan lebih lanjut yang dapat dilakukan terhadap dugaan fasilitasi prostitusi karena masa kedaluwarsa perkara tersebut telah berakhir.
"Sepertinya masa kedaluwarsa untuk tuduhan fasilitasi prostitusi telah berakhir," tulis keterangan kepolisian seperti dikutip dari The Korea Times.
Dengan demikian, meski kasus tersebut kembali menjadi sorotan publik lebih dari satu dekade setelah kejadian, peluang untuk membawa perkara itu ke ranah pidana domestik tampak semakin kecil.
Namun, persoalan tersebut belum sepenuhnya selesai dari sisi reputasi dan sepak bola internasional.
Kasus Terjadi pada 2010-2011
Dugaan pemberian layanan seksual kepada perangkat pertandingan tersebut berkaitan dengan pertandingan internasional yang berlangsung di Korea Selatan sekitar 2010 hingga 2011.
Audit Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan kemudian menemukan adanya penggunaan kartu kredit perusahaan untuk membayar berbagai pengeluaran yang dikaitkan dengan kunjungan perangkat pertandingan asing.
Laporan lain yang mengutip hasil audit pemerintah menyebut sekitar 10 wasit dan match official asing diduga menerima layanan tersebut dalam tujuh pertandingan yang berlangsung pada periode 2011-2012. Pertandingan itu termasuk laga kualifikasi Piala Dunia dan Olimpiade.
Fakta bahwa dugaan tersebut berkaitan dengan pertandingan kompetitif membuat kasus ini menjadi jauh lebih serius dibanding sekadar pelanggaran internal organisasi.
Mengapa Skandal Ini Kembali Mencuat?
Kasus tersebut sebenarnya berasal dari audit pemerintah yang dilakukan pada 2016. Namun, hasil audit itu baru terungkap ke publik sekitar satu dekade kemudian.
Kebocoran hasil audit kemudian memicu sorotan besar terhadap KFA. Publik mempertanyakan bagaimana dugaan praktik suap tersebut bisa terjadi dan mengapa hasil pemeriksaan pemerintah tidak segera diketahui secara luas.
Kasus ini juga muncul ketika KFA tengah menghadapi sejumlah kontroversi lain, sehingga tekanan terhadap organisasi sepak bola Korea Selatan semakin besar.
KFA sendiri telah menyampaikan permintaan maaf atas berbagai kontroversi yang kembali menjadi perhatian publik, termasuk persoalan pemberian layanan seksual kepada perangkat pertandingan asing.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda