Menurut Akmal, naturalisasi bukan solusi untuk mengatasi persoalan mendasar sepak bola Indonesia. Ia menilai kebijakan tersebut justru menunjukkan masih lemahnya sistem pembinaan pemain usia muda di Tanah Air.
"Saya konsisten menyatakan bahwa naturalisasi adalah delusi karena merupakan jalan instan. Faktanya, hampir 50 pemain telah dinaturalisasi dalam konteks sepak bola, tetapi proses itu belum sejalan dengan prestasi yang diraih," kata Akmal saat dihubungi Medcom.id, Senin (13/7/2026).
Tolak Perbandingan dengan Maroko
Akmal juga menolak anggapan bahwa strategi naturalisasi Indonesia bisa disamakan dengan negara seperti Maroko. Menurutnya, kedua negara memiliki aturan kewarganegaraan dan sistem pembinaan sepak bola yang berbeda.
Indonesia menganut sistem kewarganegaraan tunggal berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006. Dalam aturan tersebut, proses naturalisasi pada dasarnya dilakukan melalui jalur umum dengan syarat menetap di Indonesia selama lima tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut. Sementara itu, naturalisasi di sektor olahraga umumnya dilakukan melalui mekanisme khusus.
"Jadi menurut saya, dinaturalisasinya Michael Becker tidak kemudian secara serta-merta menyelesaikan masalah fundamental sepak bola Indonesia, mulai dari ekosistemnya, pembinaannya, sampai kemudian kompetisinya," jelas Akmal.
“Karena jalan pintas biasanya tidak seelok yang kita harapkan. Biasanya akan memunculkan dua masalah. Kalau sukses pasti dianggap sebuah kesuksesan, tapi itu pun tidak akan lama,” tegasnya.
Akmal Tetap Ucapkan Selamat
Meski mengkritik kebijakan naturalisasi, Akmal tetap mengucapkan selamat kepada Mitchell Baker atas status barunya sebagai WNI. Ia berharap penyerang berusia 19 tahun itu dapat memberikan kontribusi terbaik bagi Timnas Indonesia.
"Saya mengucapkan selamat kepada Mitchell Baker. Semoga bisa memberikan yang terbaik untuk sepak bola Indonesia dan semoga hasilnya tidak seperti yang selama ini saya khawatirkan, bahwa naturalisasi hanyalah jalan instan," ujar Akmal.
Akmal juga meminta PSSI lebih fokus membenahi kompetisi dan pembinaan pemain usia muda. Menurutnya, kedua aspek tersebut menjadi fondasi utama untuk membangun tim nasional yang kuat.
"Tim nasional yang kuat lahir dari pembinaan yang baik dan kompetisi yang sehat. Itulah yang paling penting, bukan mengandalkan naturalisasi sebagai jalan instan," tutupnya.
(Ahmad Raul)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda