MEDCOM.ID - Jika Piala Dunia 1930 di Uruguay adalah tentang romantisme dan lahirnya sebuah kompetisi baru, maka edisi kedua di Italia pada tahun 1934 adalah tentang ambisi, intimidasi, dan politik.
Ini adalah kali pertama dalam sejarah di mana sepak bola tidak lagi murni tentang taktik dan keterampilan, melainkan alat propaganda bagi rezim diktator fasis. Siapa sosok yang "mengatur" keberhasilan Timnas Italia di Piala Dunia edisi kedua pada 1934?
Dia adalah Benito Mussolini. Seorang diktator kejam asal Italia yang memimpin negara tersebut sebagai Perdana Menteri dari tahun 1922 hingga 1943. Ia dikenal luas sebagai bapak Fasisme Dunia dan merupakan sekutu utama Adolf Hitler selama Perang Dunia II. Di bawah bayang-bayang Il Duce (Sang Pemimpin), Italia dituntut tidak hanya menjadi tuan rumah yang sukses, tetapi wajib keluar sebagai juara. Kegagalan bukanlah pilihan yang aman bagi para pemain.
Turnamen Pertama dengan Babak Kualifikasi dan Sistem Gugur
Piala Dunia 1934 mengalami perombakan format besar-besaran dibandingkan edisi perdana. Minat negara-negara dunia melonjak drastis, memaksa FIFA memperkenalkan babak kualifikasi untuk pertama kalinya guna menyaring 32 pendaftar menjadi 16 tim finalis. Uniknya, saking ketatnya aturan ini, Italia selaku tuan rumah tetap harus bertanding di babak kualifikasi (melawan Yunani) sebelum dinyatakan lolos ke putaran final.
Aksi Balas Dendam Uruguay
Diluar antusiasme yang luar biasa besar, juara bertahan Uruguay justru menolak berpartisipasi dan memboikot turnamen ini. Hal itu dilakukan sebagai aksi balasan karena sebagian besar negara Eropa menolak datang ke Uruguay empat tahun sebelumnya. Hingga kini, Piala Dunia 1934 menjadi satu-satunya edisi dalam sejarah di mana juara bertahan tidak ikut mempertahankan gelarnya.
Baca Juga :
Sejarah Piala Dunia 1930: Turnamen Perdana, Drama Dua Bola di Final & Perjalanan Laut Melelahkan
Selain itu, format grup dihapus. Turnamen langsung menggunakan sistem gugur (knock-out) sejak pertandingan pertama. Artinya, tim yang kalah di laga perdana langsung angkat koper dan pulang ke negara masing-masing.
Tangan Besi Mussolini di Balik Layar
Benito Mussolini melihat Piala Dunia sebagai kesempatan emas untuk menunjukkan keunggulan ideologi fasisme dan kekuatan fisik bangsa Italia kepada dunia. Poster-poster turnamen dipenuhi dengan simbol-simbol fasis, dan para pemain Italia diwajibkan melakukan hormat fasis (saluto fascista) ke tribun kehormatan sebelum laga dimulai.
Mussolini secara personal mengawasi persiapan tim. Ia menunjuk Vittorio Pozzo sebagai pelatih dengan instruksi yang sangat jelas. Berbagai laporan sejarah menyebutkan adanya pesan bernada ancaman psikologis yang berbunyi: "Menang atau Menanggung Akibatnya."
Tak hanya menekan mental pemain, Mussolini juga menjalankan strategi naturalisasi instan. Ia memanfaatkan aturan saat itu untuk memanggil para pemain bintang asal Argentina yang memiliki darah keturunan Italia (dikenal sebagai Oriundi), seperti Luis Monti, Raimundo Orsi, dan Enrique Guaita, untuk memperkuat jersey Azzurri.
Kontroversi Wasit dan Laga Brutal Kontra Spanyol
Jalan Italia menuju final diwarnai keputusan-keputusan pengadil lapangan yang dinilai sangat menguntungkan tuan rumah. Puncaknya terjadi di babak perempat final saat Italia berhadapan dengan Spanyol di Florence.
Pertandingan tersebut berjalan luar biasa brutal hingga dijuluki sebagai salah satu laga paling kasar dalam sejarah. Kiper legendaris Spanyol, Ricardo Zamora, bermain luar biasa namun dihantam berkali-kali oleh penyerang Italia tanpa ada pelanggaran yang ditiup oleh wasit Rene Mercet. Laga berakhir imbang 1-1 setelah babak perpanjangan waktu.
Karena belum ada sistem adu penalti, laga ulang (replay) digelar keesokan harinya:
- Spanyol kehilangan 7 pemain utama (termasuk kiper Zamora) yang cedera akibat kekerasan di laga pertama.
- Italia memenangkan laga ulang dengan skor 1-0 lewat gol Giuseppe Meazza.
- Wasit Rene Mercet asal Swiss yang memimpin laga tersebut kemudian dijatuhi hukuman skorsing seumur hidup oleh asosiasi sepak bola negaranya sendiri karena kepemimpinannya yang dinilai sangat berat sebelah.
Klimaks di Roma: Kemenangan yang Melegakan
Di babak final yang digelar di Stadion Nazionale PNF, Roma, Italia berhadapan dengan Cekoslowakia. Ketegangan di stadion berada di titik tertinggi. Mussolini hadir langsung di tribun utama, memancarkan aura tekanan yang luar biasa besar ke lapangan.
Cekoslowakia sempat mengejutkan publik tuan rumah setelah Antonin Puc mencetak gol pada menit ke-71. Bayang-bayang kegagalan (dan hukuman) sempat menghantui skuad Italia. Namun, mental baja dan dorongan insting bertahan hidup membuat Italia bangkit.
Pada menit ke-81, Raimundo Orsi menyamakan kedudukan menjadi 1-1 lewat tendangan melengkung. Menyelamatkan muka Italia dan memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan waktu. Penantian Italia akhirnya berbuah manis tatkala Angelo Schiavio berhasil mencetak gol kemenangan pada menit ke-95.
Euforia pun pecah. Ketika wasit meniup peluit akhir, seluruh pemain dan staf kepelatihan Italia bernapas lega. Mereka bukan hanya memenangkan sebuah trofi sepak bola, melainkan berhasil menyelamatkan karier, reputasi, dan kemungkinan keselamatan diri mereka di bawah rezim fasis.
Bagan perjalanan Piala Dunia 1934 Italia, dari babak 16 besar hingga final:
Fakta Piala Dunia 1934
- Tuan Rumah: Italia (Digelar di 8 kota berbeda)
- Negara Peserta: Italia, Austria, Belgia, Cekoslowakia, Prancis, Jerman, Hungaria, Belanda, Rumania, Spanyol, Swedia, Swiss, Argentina, Brasil, AS, Mesir
- Juara: Italia (Gelar ke-1)
- Runner-up: Cekoslowakia
- Top Scorer: Oldrich Nejedly (Cekoslowakia) – 5 Gol
- Jumlah Pertandingan: 17
- Jumlah Gol: 70
- Rata-rata Gol per pertandingan: 4,12
- Inovasi Baru: Edisi pertama yang menyiarkan pertandingan secara langsung melalui transmisi radio ke berbagai belahan dunia.
- Fakta Unik: Luis Monti menjadi satu-satunya pemain dalam sejarah sepak bola yang pernah bermain di dua laga final Piala Dunia untuk dua negara berbeda (Argentina pada 1930 dan Italia pada 1934).
Cek Berita dan Artikel yang lain di