Pelatih Iran, Amir Ghalenoei, mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk bersikap tegas terhadap perlakuan tidak menyenangkan Amerika Serikat selaku salah satu tuan rumah. Ketegangan ini diperparah oleh pernyataan emosional sang kapten, Mehdi Taremi, yang tanpa ragu menyebut turnamen edisi kali ini sebagai "Piala Dunia bencana".
Dampak dari konflik militer dan ketegangan geopolitik kedua negara terbukti nyata menjalar ke atas lapangan hijau. Pejabat otoritas AS memberlakukan pengawasan super ketat yang dinilai diskriminatif. Skuad Iran dilarang menetap di AS dan hanya diizinkan menginjakkan kaki 24 jam sebelum pertandingan dimulai. Begitu peluit panjang berbunyi, Tim Melli juga diwajibkan langsung angkat kaki ke kamp mereka di Tijuana, Meksiko.
Janji Manis Gianni Infantino yang Tak Terbukti
Guna menyuarakan ketidakadilan ini, federasi Iran sebenarnya telah melayangkan pengaduan resmi ke FIFA. Gianni Infantino selaku Presiden FIFA juga sempat mendatangi ruang ganti Iran seusai pertandingan pertama untuk menunjukkan dukungan moril. Namun, perlakuan tidak menyenangkan AS belum berubah hingga berakhirnya laga penentu melawan Mesir.
"Saya tahu Infantino telah berusaha sebaik mungkin untuk meminimalisir masalah sebisa mungkin, tetapi tuan rumah tidak bersikap baik kepada kami,” ketus Ghalenoei selepas laga kontra Mesir yang turut menjaga asa Iran ke babak 32 besar Piala Dunia 2026.
"Saya mendesak FIFA untuk tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim dan pemain dengan cara yang sama di masa mendatang. Saya berharap, Infantino benar-benar akan menentang perilaku seperti itu," tambahnya seperti dikutip dari si.com.
Fisik Pemain Dikuras: Dipaksa Terbang Tepat Setelah Bertanding
Ghalenoei mengaku sangat bangga dengan mentalitas para pemain mudanya yang tetap berjuang habis-habisan di tengah sabotase psikologis dan fisik oleh regulasi tuan rumah. Menurutnya, keberhasilan Iran tampil apik di tengah bayang-bayang situasi perang serta hambatan logistik yang ekstrem adalah sebuah pencapaian terbesar yang patut dicatat sejarah.
Namun, dia menyayangkan kondisi fisik para pemainnya yang terkuras karena harus langsung terbang kembali ke Meksiko setelah melakoni tiap pertandingan di AS.
"Seandainya negara tuan rumah mengizinkan kami tiba dua minggu lebih awal, kami akan lebih siap. Itu adalah tuntutan yang masuk akal dan rasional. Kami akan mampu memulihkan diri dan berada dalam kondisi fisik serta mental yang lebih baik; namun, mereka (AS) merampas keadilan itu dari kami," keluh Ghalenoei.
"Ini sudah ketiga kalinya mereka melakukan ini kepada kami. Kami harus berangkat dari stadion ke bandara untuk kembali ke Tijuana, dan perjalanan itu memakan waktu sekitar tiga jam," imbuhnya.
Mehdi Taremi Kesal dengan FIFA: "Jika Ingin Kami Keluar, Katakan Saja!"
Kekecewaan yang jauh lebih keras disuarakan oleh kapten tim, Mehdi Taremi. Striker andalan Iran ini mencium adanya kejanggalan dan menduga kegagalan FIFA untuk campur tangan adalah bagian dari konspirasi terselubung untuk mendepak Iran secepat mungkin dari Piala Dunia 2026.
“Ini Piala Dunia yang bencana; bencana. Maksud saya, FIFA harus menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi sayangnya mereka tidak dapat menyelesaikannya sejak awal. Jika mereka ingin kami keluar, maka oke, mari kita keluar. Tapi itu tidak adil,” kata Taremi dengan nada geram.
"Kami tidak memiliki tim logistik karena mereka tidak diberikan visa. Bagaimana ceritanya kami harus selalu bepergian dari Tijuana? Kami menyukai orang-orang di Tijuana, kami menyukai Meksiko, mereka rendah hati dan kami menyayangi mereka. Namun, sebagai pemain profesional dalam kompetisi profesional, ini tidak benar dan tidak adil!" pungkas Taremi.
3 Skenario Iran Lolos ke Babak 32 Besar
Meskipun terus dijegal berbagai kendala non-teknis di luar lapangan, asa Iran untuk melaju ke fase gugur tetap terbuka lebar. Seperti dilansir Sports Illustrated, Tim Melli berada di posisi yang cukup menguntungkan, tapi harus menunggu hasil laga lain dengan cemas.
Tempat Iran di babak selanjutnya akan otomatis terjamin aman jika salah satu dari skenario berikut ini menjadi kenyataan:
1. Ghana berhasil menumbangkan Kroasia
2. RD Kongo gagal meraih poin penuh melawan Uzbekistan
3. Laga Aljazair vs Austria berakhir dengan skor imbang
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda