NJ Transit, operator transportasi negara bagian New Jersey, berencana menaikkan tarif tiket kereta pulang-pergi dari Stasiun Pennsylvania, New York, menjadi lebih dari USD100 (sekitar Rp1,6 juta) selama turnamen berlangsung.
Harga ini melonjak sangat signifikan mengingat tarif normal untuk rute sejauh 18 mil tersebut hanya USD12,90 (sekitar Rp200 ribu). Artinya, terdapat kenaikan lebih dari tujuh hingga delapan kali lipat.
Dilansir dari The Athletic, kenaikan harga yang mencapai tujuh kali lipat ini diberlakukan untuk menutup biaya operasional dan keamanan ekstra yang diperkirakan mencapai USD48 juta (sekitar Rp823 miliar) untuk delapan pertandingan.
Kritik dari Pemimpin Daerah
Senator New York, Chuck Schumer, melayangkan kritik keras terhadap kebijakan ini. Ia menegaskan tidak ingin membebankan biaya kepada wajib pajak, sehingga kenaikan tarif tiket dianggap sebagai solusi untuk menutup biaya operasional dan bukan mencari keuntungan.
"FIFA diperkirakan meraup pendapatan USD11 miliar. Namun, warga dan komuter di wilayah New York justru yang harus menanggung biayanya," ujar Schumer.
Schumer secara tegas menyebut kebijakan FIFA sebagai bentuk "pemerasan" terhadap kota-kota tuan rumah di Amerika Serikat. Sebab, FIFA tetap mengantongi pendapatan dari tiket pertandingan dan hak siar.
Gubernur New York, Kathy Hochul, menyebut tarif yang diusulkan itu "terlalu tinggi". Sementara, Gubernur New Jersey Mikie Sherrill yang baru menjabat awal tahun ini tak ingin biaya Piala Dunia membebani pembayar pajak di negaranya.
Berbanding Terbalik dengan Piala Dunia dan Euro Sebelumnya
Kondisi di Amerika Serikat ini berbanding terbalik dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2022 di Qatar dan Euro 2024 di Jerman. Di kedua negara tersebut, pemegang tiket pertandingan mendapatkan akses transportasi umum secara gratis sebagai bagian dari layanan penyelenggara. (Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News