Kemenangan dramatis ini dipastikan melalui gol semata wayang penyerang Timnas Arab Saudi, Firas Al-Burikan, pada menit keenam babak tambahan waktu. Gol tersebut tercipta setelah memanfaatkan umpan matang dari mantan gelandang Barcelona, Franck Kessié.
Dominasi di Tengah Kendala Kartu Merah
Meski tampil di hadapan 60.000 pendukungnya, perjuangan Al Ahli tidaklah mudah. Klub berjuluk Al-Malaki ini harus bermain dengan 10 pemain sejak pertengahan babak kedua setelah Zakaria Hawsawi diganjar kartu merah akibat melakukan pelanggaran keras terhadap Tete Yangi.
Winger Al Ahli, Riyad Mahrez, mengakui beratnya tekanan dalam pertandingan tersebut. "Bermain 10 lawan 11 hampir mustahil. Namun, setelah kartu merah, kami justru semakin solid dan berjuang lebih keras hingga akhirnya mampu mencetak gol," ujar mantan pemain Manchester City tersebut.
Machida Zelvia, yang berstatus sebagai finalis debutan, sebenarnya sempat menekan melalui keunggulan jumlah pemain. Namun, penampilan gemilang kiper Édouard Mendy di bawah mistar gawang Al Ahli berhasil mematahkan setiap peluang yang diciptakan tim tamu.
Sejarah Baru di Asia
Keberhasilan ini membawa Al Ahli menjadi tim pertama yang mampu meraih gelar juara Asia secara back-to-back sejak rival sekota mereka, Al Ittihad, melakukannya pada tahun 2005. Di sisi lain, pelatih Machida Zelvia, Go Kuroda, mengakui keunggulan pengalaman lawan dalam turnamen bergengsi ini.
Final tahun ini juga mencerminkan dinamika turnamen yang sempat terhambat oleh konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan penundaan jadwal dan perubahan format pertandingan di wilayah Asia Barat. Namun, kehadiran Machida Zelvia di Jeddah tetap mencatatkan sejarah baru bagi klub asal Jepang tersebut meski gagal membawa pulang trofi.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News