Jakarta: Mereka memanggilnya "Cry Baby." Julukan itu lahir dari ruang ganti La Albiceleste. Bukan untuk mengejek. Melainkan karena para pemain berkali-kali melihat pelatih mereka menangis.
Saat lagu kebangsaan dikumandangkan. Saat seorang pemain yang bahkan tidak turun bermain datang memeluknya. Saat Campeones del Mundo menang. Bahkan ketika semua kamera sedang mencari wajah Lionel Messi, air mata justru mengalir di pipi Lionel yang satunya.
Dunia juga mengenalnya sebagai "The Other Lionel." Lionel yang bukan Messi. Lionel yang tidak mencetak gol. Lionel yang berdiri beberapa langkah di belakang garis lapangan.
Bagi banyak orang, ia hanyalah tokoh pendukung dalam kisah seorang bintang. Namun mungkin, justru di situlah kesalahan kita selama ini. Karena sejarah memang selalu mengingat para jenderal. Tetapi peradaban hampir selalu dibangun oleh para kolonel.
Jenderal memimpin peperangan. Sedangkan Kolonel memimpin manusia. Yang hidup bersama pasukannya. Yang mengenali siapa yang mulai kehilangan kepercayaan diri. Yang memahami siapa yang sedang memikul beban paling berat. Yang memastikan setiap prajurit tetap percaya kepada dirinya sendiri, bahkan ketika tak seorang pun dari mereka menjadi pahlawan.
Kolonel tidak dibesarkan untuk menjadi tokoh utama. Namun dibentuk agar pasukannya tidak pernah kehilangan arah. Barangkali, itulah Lionel Scaloni.
Ketika Federasi Sepak Bola Argentina menunjuknya pada 2018, hampir tidak ada yang benar-benar percaya. The Other Lionel itu dianggap terlalu muda. Terlalu minim pengalaman. Terlalu biasa untuk memimpin negara yang dibesarkan oleh nama-nama sebesar Menotti, Bilardo, Maradona, hingga Messi.
Delapan tahun kemudian, lelaki yang semula dianggap sekadar pelatih sementara itu justru menjadi pelatih Argentina kedua dalam sejarah yang mampu membawa La Albiceleste ke dua final Piala Dunia, menyamai jejak Carlos Bilardo. Namun menariknya, warisan terbesar Scaloni mungkin bukan dua final itu. Warisan terbesarnya adalah membuat Argentina berhenti percaya bahwa sebuah bangsa hanya bisa diselamatkan oleh satu orang.
Di negeri yang terbiasa menunggu penyelamat, Scaloni justru datang tanpa menawarkan dirinya sebagai penyelamat.Tidak meminta panggung. Pula tidak meminta kekaguman. Melainkan hanya mulai membangun sesuatu yang nyaris tak terlihat, kepercayaan.
Selama puluhan tahun, Argentina hidup dalam bayang-bayang satu keyakinan, selalu harus ada seseorang yang menyelamatkan mereka. Sebut saja, Maradona lalu Messi. Seolah-olah sejarah hanya bisa bergerak jika ada satu manusia luar biasa yang memikul seluruh harapan sebuah bangsa.
Scaloni tidak pernah melawan keyakinan itu dengan pidato. Tetapi melawannya dengan kebiasaan. Sedikit demi sedikit, ia mengubah cara Argentina memandang kemenangan. Messi tetap menjadi pemain terbaik. Tetapi Argentina tidak lagi bermain untuk menyelamatkan Messi. Argentina bermain bersama Messi.
Perbedaannya tampak kecil. Padahal maknanya mengubah segalanya. Perubahan itu bahkan memiliki nama, La Scaloneta. Awalnya hanya lelucon di media sosial. Lalu berubah menjadi identitas. La Scaloneta bukan sekadar julukan sebuah tim. Melainkan cara baru Argentina memahami dirinya sendiri.
Sebuah kendaraan tidak melaju karena satu roda. Tidak pula karena pengemudinya semata. Tetapi bergerak karena seluruh bagiannya bekerja dalam irama yang sama. Barangkali itulah yang sebenarnya dibangun Scaloni. Bukan sekadar skuad melainkan budaya.
Karena seorang kolonel memahami bahwa keberanian bukanlah kemampuan bertempur sendirian. Keberanian adalah keyakinan bahwa ketika satu prajurit jatuh, prajurit lain akan maju tanpa diminta.
Itulah sebabnya, setiap selesai pertandingan, Scaloni hampir selalu berbicara tentang mereka yang tidak bermain. Ia mengucapkan terima kasih kepada para pemain cadangan. Memuji mereka yang hanya berlatih. Dan, memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak pemimpin.
Moral pasukan tidak dibangun pada hari pertempuran. Moral dibangun jauh sebelum peluit pertama berbunyi. Di situlah saya mulai memahami bahwa kepemimpinan terbesar sering kali tidak terlihat ketika semuanya berjalan baik. Scaloni justru terlihat ketika setiap orang merasa dirinya penting, meskipun tidak sedang menjadi pusat perhatian.
Karena itu, saya tidak pernah benar-benar percaya ketika orang menyebut Scaloni sebagai pelatih hebat. Istilah itu terlalu kecil. Ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit, mengubah sebuah bangsa yang terbiasa mencari pahlawan menjadi bangsa yang belajar mempercayai sistem.
Dan mungkin, itulah tugas seorang kolonel. Bukan memenangkan satu peperangan. Melainkan memastikan pasukannya tetap mampu bertempur, bahkan ketika suatu hari dirinya tidak lagi berdiri bersama mereka.
Trofi memang dapat berpindah tangan. Rekor pada akhirnya akan dipecahkan. Nama besar perlahan akan menjadi sejarah. Tetapi jika suatu hari Argentina tetap mampu menang ketika Messi telah pensiun, ketika Scaloni telah pergi, dan ketika generasi ini tinggal kenangan barangkali saat itulah dunia akhirnya memahami apa yang sesungguhnya dikerjakan oleh seorang kolonel.
(N.D. Santoso)
Jadwal dan Link Streaming Prancis vs Inggris: Laga Penentu Peringkat Ketiga Dunia
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan