Selama turnamen berlangsung, perhatian dunia banyak tertuju kepada kiper veteran Vozinha yang tampil gemilang di bawah mistar. Penjaga gawang berusia 39 tahun itu mencatat total 18 penyelamatan krusial, termasuk tujuh penyelamatan saat menghadapi Spanyol dan tujuh penyelamatan lainnya ketika melawan juara bertahan Argentina.
Namun, selain Vozinha, Tanjung Verde juga memiliki kisah inspiratif dari sosok Pico Lopes yang menempuh jalan tidak biasa untuk mengenakan seragam Blue Sharks.
Punya Cerita Berbeda di Balik Kesuksesan Tanjung Verde
Pico Lopes lahir dari keluarga berdarah campuran. Ibunya berasal dari Irlandia, sedangkan ayahnya merupakan keturunan Tanjung Verde. Bek tengah berusia 33 tahun itu pernah memperkuat Timnas Irlandia U-19, tetapi tidak pernah mendapat kesempatan tampil bersama tim nasional senior.
Pada 2018, pelatih Tanjung Verde saat itu, Rui Águas, mengetahui Lopes memenuhi syarat membela negara asal ayahnya. Águas kemudian mencoba menghubungi sang pemain melalui LinkedIn.
Akan tetapi, pesan pertama tersebut tidak mendapat balasan. Lopes mengira pesan berbahasa Portugis itu hanyalah spam karena ia tidak memahami isi percakapannya.
Berawal dari LinkedIn, Berakhir di Piala Dunia
Sembilan bulan kemudian, Rui Águas kembali menghubungi Lopes menggunakan bahasa Inggris. Kali ini pesan tersebut mendapat respons positif hingga akhirnya Lopes menerima tawaran memperkuat Tanjung Verde.
Debut internasionalnya terjadi pada 2019 saat Tanjung Verde mengalahkan Togo dengan skor 2-0 dalam laga persahabatan. Sejak saat itu, ia berkembang menjadi salah satu pemain paling penting di lini belakang Blue Sharks.
Menjadi Pilar Pertahanan di Piala Dunia 2026
Di Piala Dunia FIFA 2026, Pico Lopes tampil sebagai bek utama Tanjung Verde. Bersama rekan-rekannya, ia membantu tim meredam serangan sejumlah negara kuat seperti Spanyol, Uruguay, hingga Argentina.
Meski langkah Tanjung Verde akhirnya terhenti di babak 32 besar usai kalah dramatis 2-3 dari Argentina setelah perpanjangan waktu, performa Lopes tetap menuai apresiasi. Ketenangan, pengalaman, dan kepemimpinannya di lini belakang menjadi salah satu faktor penting di balik pencapaian bersejarah Tanjung Verde sebagai debutan yang mampu melangkah hingga fase gugur.
Perjalanan Pico Lopes pun menjadi bukti bahwa kesempatan besar bisa datang dari cara yang tidak terduga. Sebuah pesan LinkedIn yang sempat dianggap spam justru mengantarkannya tampil di panggung sepak bola terbesar dunia.
*Halo sobat Medcom, buat kalian yang suka nonton bola dan nebak skor pertandingan, yuk ikutan lomba tebak skor Medcom.id yang akan hadir setiap hari dari fase grup hingga final. Nah, kita udah siapin hadiah menarik senilai jutaan rupiah buat kalian yang paling banyak menebak skor pertandingan dengan benar. So, tunggu apa lagi, yuk, daftar di sini.
(Muhammad Zaidan Rizky)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda