Kolo Toure dan William Gallas. (Foto: AFP/Adrian Dennis)
Kolo Toure dan William Gallas. (Foto: AFP/Adrian Dennis)

12 Pemain yang Main Satu Tim, tapi Saling Benci (Bagian - 2)

Friko Simanjuntak • 01 Agustus 2022 12:02
Jakarta: Kekompakan menjadi salah satu faktor yang wajib dimiliki sebuah klub sepak bola untuk bisa sukses. Untuk itu, setiap pemain dituntut memiliki hubungan baik dengan rekan satu timnya.
 
Dalam sepak bola, kita biasa melihat keributan yang terjadi antar pemain yang kemudian merambat hingga pemain dari kedua tim. Hal ini biasanya terjadi karena adanya solidaritas yang kuat antar rekan satu tim.
 
Jarang sekali kita melihat keributan antara rekan satu tim. Namun demikian, bukan berarti para pemain yang berada dalam satu klub/tim yang sama selalu memiliki hubungan yang baik dengan seluruh rekan setimnya.

Pada artikel edisi kali ini, kita akan melihat 12 atau enam pasang pemain yang bermain sebagai rekan setim namun memiliki hubungan yang tidak baik. Bahkan ada yang saling membenci. Siapa saja mereka?
 
Berikut 12 rekan setim yang saling membenci:

3. Kolo Toure dan William Gallas

Kolo Toure dan Willam Gallas adalah dua bek andalan Arsenal yang nyaris jadi juara Liga Champions 2005 -- 2006 (kalah dari Barcelona). Keduanya jadi jaminan mutu jantung pertahanan Arsenal kala itu.
 
Sayang, kemitraan keduanya tak lagi harmonis di musim terakhir mereka berduet, tepatnya pada 2007 -- 2008. Pemicu keretakan hubungan keduanya hanya masalah ban kapten.
 
Gallas yang menjabat sebagai kapten pada waktu itu, merasa tidak terima posisinya sebagai pemimpin tim digantikan oleh Toure. Reaksi ketidakharmonisan keduanya pun terlihat jelas usai pertandingan tandang Arsenal melawan Birmingham yang berkesudahan 2-2.
 
Setelah insiden tersebut, kedua pemain itu nyaris tidak pernah berbicara satu sama lain. “Hubungan kami hanya sebatas hubungan profesional. Begitu kami berada di lapangan, kami mencoba untuk menjaga sikap profesional dan berkomunikasi.” ujar Toure membenarkan bahwa ia sempat memiliki masalah personal dengan Gallas.
 
Tidak ingin situasi tidak kondusif ini terus berlanjut, manajemen Arsenal akhirnya melepas Kolo Toure ke Manchester City pada akhir musim 2007 -- 2008. Sementara Gallas meninggalkan Arsenal dan bergabung ke Tottenham Hotspur satu musim berselang.

2. Mauro Icardi dan Maxi Lopez

Perseteruan Mauro Icardi dan Maxi Lopez merupakan salah satu perseteruan yang cukup banyak mendapatkan sorotan publik. Seperti dalam sebuah drama, hubungan keduanya rusak karena masalah perselingkuhan.
 
Keretakan hubungan keduanya terjadi ketika mereka sama-sama memperkuat Sampdoria pada 2012. Maxi Lopez merasa dikhianati oleh Icardi yang ternyata punya rencana jahat dibalik pertemanan yang mereka jalin.
 
Menurut klaim Lopez, Icardi tak ubahnya musuh dalam selimut. Awalnya, ia kerap mengajak Icardi ketika berlibur atau bepergian dengan istrinya, Wanda Nara. Lopez bahkan memperlakukan kompatriotnya itu seperti seorang adik.
 
Sayangnya, di tengah ketulusan Lopez, Icardi justru menikamnya dari belakang dengan memadu kasih bersama istrinya. Perselingkuhan itu akhirnya membuat pernikahan Lopez dan Nara berakhir. Makin menyakitkan buat Lopez, Icardi justru menikahi Wanda Nara enam bulan setelah mereka bercerai.
 
Perseteruan di antaranya keduanya bahkan terbawa sampai ke Timnas Argentina. Lopez bahkan sampai meminta bantuan secara khusus kepada Lionel Messi untuk membantunya merayu pelatih untuk mengeluarkan Icardi dari timnas.
 
Hingga kini, Lopez kabarnya masih belum bisa memaafkan Icardi. Ia bahkan tidak mau mengakui bahwa Icardi pernah jadi rekan setimnya dan juga ayah tiri dari anak-anak hasil pernikahannya bersama Wanda Nara.

1. Igor Stimac dan Sinisa Mihajlovic

Igor Stimac dan Sinisa Mihajlovic sudah saling mengenal sejak remaja dan bahkan bermain bersama di timnas Yugoslavia yang jadi juara Piala Dunia junior pada 1987.
 
Selama menjadi rekan satu tim di tim nasional, mereka sering bertemu di sisi yang berlawanan untuk klub masing-masing di dua kota tetangga. Igor Stimac berasal dari bagian selatan Kroasia membela tim Hajduk Split.
 
Sedangkan Sinisa Mihajlovic tumbuh sekitar 20 km dari Vinkovci, yang merupakan titik transfer kereta api antara bagian timur laut Kroasia dekat dengan perbatasan Serbia modern. Ia bermain untuk Red Star Belgrade.
 
Di tengah konflik panas antara dua negara bagian itu, keduanya sering bertemu di bar dan kafe. Meskipun teman mereka menekan mereka untuk tidak berbicara, mereka tetap saling sapa dan mengobrol tentang sepak bola.
 
Hubungan harmonis keduanya akhirnya berubah menjadi permusuhan abadi setelah terjadinya perang antara Kroasia dan Serbia yang menewaskan 12 polisi Kroasia dan tiga milisi Serbia dalam baku tembak yang terjadi di Vukovar, atau hanya beberapa meter dari tempat Mihajlovic dibesarkan.
 
Tak sampai beberapa minggu setelah insiden berdarah itu, kedua pemain akhirnya bertemu sebagai lawan pada babak final Piala Yugoslavia 1990/1991 di Belgrade. Hajduk Split yang mewakili Kroasia bersua Red Star Belgrade yang berasal dari Serbia.
 
Stimac yang bertindak sebagai kapten Hajduk dengan pita hitam di lengan, tidak lagi melihat Mihajlovic sebagai teman dan mantan rekan setim. Saat keduanya bertemu di garis tengah untuk melakukan kick-off, Stimac berbisik kepada Mihajlovic dan mengatakan, "Saya harap orang-orang kami membunuh seluruh keluarga Anda di Borovo."
 
Dan karena saluran telepon ke Borovo terputus selama beberapa hari, Mihajlovic tidak tahu apakah keluarganya masih hidup atau tidak.
 
Begitu marahnya Mihajlovic sehingga dia menyerang Stimac setiap kali keduanya berhadapan di lapangan. Eks bintang Inter Milan itu sudah melupakan laga final dan menghabiskan setiap detik pertandingan mencoba melukai Stimac. Akibat permainan brutal yang mereka pertontonkan, baik Stimac maupun Mihajlovic akhirnya dikeluarkan dari lapangan.
 
Hajduk Split akhirnya keluar sebagai juara usai menang 1-0 atas Red Star. Saat mengangkat piala, Stimac mengatakan, " (Piala) ini milik kita selamanya sekarang. Piala Yugoslavia tidak akan pernah dimainkan lagi.”
 
Dan betul saja, akibat kondisi negara yang tidak kondusif Piala Yugoslavia akhirnya dihentikan pada tahun 1992, menyusul dibubarkannya Yugoslavia. Partizan Belgrade menjadi juara terakhir di Piala Yugoslavia usai mengalahkan Red Star 3-2 pada babak final musim 1991 -- 1992.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ASM)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan