Piala Dunia (AFP/Charly Triballeau)
Piala Dunia (AFP/Charly Triballeau)

Terlalu Berharga Untuk Diberi Harga

Gregorius Gelino • 01 Agustus 2026 18:35
Ringkasnya gini..
  • Rencana FIFA membuka investasi swasta pada hak komersial Piala Dunia memicu perdebatan global. Eropa (UEFA) memandangnya sebagai ancaman terhadap kesucian warisan sepak bola, sementara FIFA dan pendukungnya menganggap pendanaan baru ini vital untuk evolusi industri olahraga modern.
  • Dukungan Indonesia terhadap FIFA bukan sekadar bentuk kepatuhan, melainkan kebutuhan riil. Di saat negara maju berfokus menjaga stabilitas, Indonesia butuh pendanaan dan transformasi infrastruktur sepak bola pasca-tragedi Kanjuruhan untuk membangun fondasi dari nol.
  • Di luar perdebatan angka dan model bisnis, daya tahan sejati Piala Dunia tidak terletak pada federasi atau investor, melainkan pada memori kolektif dan ikatan emosional sesuatu yang tidak akan pernah bisa dihitung oleh kalkulator ekonomi.
Jakarta: Tidak ada yang sedang mencoba membeli Piala Dunia. Kalimat itu terdengar ganjil. Hampir mustahil. Sebab siapa yang cukup naif untuk percaya bahwa trofi emas yang hanya muncul setiap empat tahun sekali itu dapat diperdagangkan layaknya sebuah perusahaan, stadion, atau hak siar pertandingan?
 
Namun justru di situlah kegelisahan ini bermula. Yang diperdebatkan dunia hari ini bukan trofinya. Bukan stadionnya. Bukan pula pertandingan yang membuat miliaran orang rela mengorbankan tidur demi sembilan puluh menit yang tak pernah mereka mainkan. Yang sedang diperebutkan jauh lebih sunyi daripada itu. Cara manusia memandang Piala Dunia itu sendiri.
 
Pukul 01.57.
Lampu ruang tamu sengaja tidak dinyalakan. Hanya cahaya televisi yang bergerak pelan di dinding, memantulkan bayangan dua sosok yang belum sepenuhnya terjaga. Di atas meja, secangkir kopi telah kehilangan uapnya. Seorang ayah, masih mengenakan sarung, menyentuh pelan bahu anaknya yang masih memeluk bantal, "Bangun nak, finalnya sudah mulai."

Tidak ada pelajaran tentang sejarah sepak bola. Tidak ada cerita tentang siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, Lamine Yamal, Mbappe atau Haaland. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit, memberi ruang di sebelahnya. Anak itu duduk dengan mata yang masih berat. Beberapa menit kemudian, lagu kebangsaan berkumandang. Dini hari itu tidak ada trofi yang berpindah ke ruang tamu mereka. Tidak ada medali. Tidak ada hadiah. Yang berpindah hanyalah sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam statistik. Perasaan memiliki.
 
Bertahun-tahun kemudian, anak itu mungkin lupa siapa pencetak gol pada malam itu. Ia mungkin lupa skor akhirnya. Ia mungkin bahkan lupa stadion tempat pertandingan itu dimainkan. Namun ia tidak pernah lupa malam ketika seseorang pertama kali mengajarinya menunggu Piala Dunia. Begitulah sebuah warisan bekerja. Ia tidak diwariskan melalui akta. Ia tidak diwariskan melalui kontrak. Ia berpindah diam-diam, dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
 
Lalu datanglah zaman yang memiliki kebiasaan yang nyaris selalu sama. Ia tidak terburu-buru mengubah kenyataan. Ia lebih suka mengubah cara kenyataan itu diceritakan. Yang dahulu terdengar sebagai "menjual", kini terasa lebih sopan ketika disebut optimalisasi. Yang dahulu disebut "mencari keuntungan", kini berganti nama menjadi penciptaan nilai.
 
Barangkali memang begitulah bahasa. Tidak memaksa manusia menerima perubahan. Tetapi hanya membuat perubahan terdengar lebih masuk akal.
 
Sepak bola memang membutuhkan uang. Tidak ada yang membantah itu. Lapangan tidak dibangun oleh nostalgia. Akademi tidak berdiri karena tepuk tangan. Pelatih tidak dibayar oleh romantisme. Tetapi selalu ada garis yang nyaris tak terlihat ketika uang berhenti menjadi alat untuk menjaga sebuah warisan, lalu perlahan warisan mulai dipandang sebagai alat untuk menghasilkan uang.
 
Di situlah kegelisahan ini lahir. Bukan karena sepak bola berubah. Melainkan karena cara manusia memandang sepak bola mulai berubah. Ketika FIFA menggagas pembentukan entitas komersial baru yang membuka peluang masuknya investor dalam pengelolaan hak-hak komersial Piala Dunia, sebagian orang melihatnya sebagai langkah yang masuk akal.
 
Dunia olahraga modern memang semakin mahal. Kompetisi berkembang, teknologi berubah, biaya meningkat dan pendanaan menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Bagi mereka, membuka sumber pembiayaan baru adalah bagian dari cara memastikan sepak bola tetap bertumbuh. Namun tidak semua melihatnya dari jendela yang sama.
 
UEFA menyampaikan keberatan. CONCACAF mempertanyakan proses dan tata kelolanya. Sekilas, semuanya tampak seperti perdebatan mengenai model bisnis. Padahal sesungguhnya tidak. Yang sedang diuji bukan sekadar mekanisme investasi. Yang sedang diuji adalah batas yang memisahkan antara mengembangkan sebuah warisan dan mengubah makna warisan itu sendiri.
 
Untuk pertama kalinya dalam hampir satu abad, dunia tidak hanya memperdebatkan siapa yang akan mengangkat trofi Piala Dunia. Dunia mulai memperdebatkan siapa yang berhak menentukan arti Piala Dunia.
 
Menariknya, ketika sebagian kekuatan besar sepak bola dunia memilih berhati-hati, Indonesia justru berdiri di sisi yang berbeda. Melalui PSSI, Indonesia menyatakan dukungannya terhadap langkah FIFA.
 
Bagi sebagian orang, sikap itu terlihat mengejutkan. Bahkan mengundang kecurigaan. Mengapa ketika Eropa mempertanyakan, Indonesia justru mendukung?
 
Jawaban yang paling mudah adalah prasangka. Jawaban yang paling sulit adalah konteks. Dan hampir selalu, konteks lebih dekat kepada kebenaran daripada prasangka.
 
Indonesia tidak sedang melihat Piala Dunia yang berbeda. Indonesia hanya sedang berdiri pada titik sejarah yang berbeda.
 
Sebagian negara Eropa telah menikmati liga yang mapan, stadion yang megah, sistem pembinaan yang matang, serta industri sepak bola yang telah tumbuh selama puluhan tahun. Ketika fondasi telah kokoh, setiap perubahan memang wajar dibaca dengan kehati-hatian. Indonesia datang dari pengalaman yang lain.
 
Sepak bola nasional masih sibuk menyusun batu pertama bagi rumah yang ingin dibangunnya. Lebih banyak lapangan, akademi, pelatih, dan lebih banyak kesempatan agar mimpi seorang anak tidak berhenti di lapangan kampungnya.
 
Karena itu, yang dibaca Eropa sebagai potensi ancaman dapat dibaca Indonesia sebagai peluang. Bukan karena salah satunya lebih benar. Melainkan karena keduanya sedang menjawab kebutuhan yang berbeda.
 
Hubungan Indonesia dan FIFA dalam beberapa tahun terakhir juga berkembang ke arah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tragedi Kanjuruhan menjadi titik balik yang menyakitkan. Dari luka itu lahir agenda transformasi. FIFA terlibat dalam pembenahan tata kelola, pengembangan pembinaan usia muda, peningkatan standar keselamatan stadion, hingga pembangunan infrastruktur sepak bola nasional.
 
Hubungan itu kemudian memperoleh makna simbolik ketika Presiden FIFA, Gianni Infantino, menerima Bintang Jasa Pratama dari Presiden Joko Widodo. Penghargaan tersebut tidak otomatis menjelaskan mengapa PSSI mengambil posisi mendukung.
 
Menyimpulkan sejauh itu berarti melampaui fakta. Namun mengabaikannya juga berarti menghilangkan salah satu konteks penting dalam membaca hubungan Indonesia dan FIFA pada periode ini.
 
Analisis yang jujur tidak dibangun di atas dugaan. Melainkan dibangun di atas kesediaan melihat keseluruhan gambar. Di sinilah polemik itu menjadi jauh lebih menarik. Yang sedang berhadapan ternyata bukan FIFA melawan UEFA. Bukan pula Indonesia melawan Eropa. Yang sedang berhadapan adalah dua cara membaca masa depan sepak bola.
 
Cara pertama percaya bahwa warisan hanya dapat bertahan apabila dijaga sejauh mungkin dari logika pasar. Cara kedua percaya bahwa warisan justru membutuhkan sumber daya baru agar mampu bertahan menghadapi dunia yang terus berubah. Keduanya lahir dari niat yang tampak sama. Menjaga Piala Dunia.
 
Namun sejarah sering kali menunjukkan bahwa manusia dapat berjalan ke arah yang berlawanan meskipun memulai langkah dari tujuan yang sama. Ironisnya, semakin keras perdebatan berlangsung, semakin mudah kita melupakan satu hal. Piala Dunia tidak pernah hidup karena FIFA. Tidak pernah pula hidup karena UEFA atau CONCACAF. Apalagi karena investor.
 
Piala Dunia hidup karena miliaran orang di seluruh dunia percaya bahwa turnamen itu lebih besar daripada sembilan puluh menit pertandingan. Lebih besar daripada hak siar. Lebih besar daripada neraca keuangan. Dan mungkin, lebih besar daripada organisasi mana pun yang mengelolanya.
 
Barangkali, di situlah letak ironi zaman ini. Kita hidup pada masa ketika hampir segala sesuatu dapat dihitung. Mulai dari harga pemain, nilai sponsor, valuasi klub, pendapatan liga, jumlah penonton, nilai hak siar, dan bahkan hampir semuanya.
 
Tetapi ada satu hal yang selalu lolos dari kalkulator. Mengapa seorang ayah rela membangunkan anaknya pada pukul dua dini hari hanya untuk menonton pertandingan yang bahkan tidak melibatkan negaranya. Tidak ada rumus ekonomi yang mampu menjelaskan itu. Tidak ada laporan keuangan yang mampu mengukurnya.
 
Karena sejak awal, Piala Dunia tidak pernah hidup hanya sebagai sebuah kompetisi. Ia hidup sebagai kenangan yang berpindah dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
 
Dan mungkin, justru karena itulah dunia begitu gelisah ketika mulai membicarakannya dengan bahasa yang terlalu akrab dengan angka. Mungkin pada akhirnya, dunia memang tidak sedang memperdebatkan siapa yang benar. FIFA memiliki alasan. UEFA memiliki kegelisahan. CONCACAF mempunyai pertanyaan. Indonesia pun memiliki kepentingannya sendiri. Semuanya berangkat dari keyakinan bahwa mereka sedang menjaga masa depan sepak bola.
 
Namun sejarah sering memperlihatkan sesuatu yang lain. Perdebatan besar hampir tidak pernah dimenangkan oleh pihak yang paling keras berbicara. Melainkan dimenangkan oleh cara manusia memilih mengingatnya.
 
Barangkali itulah sebabnya Piala Dunia mampu bertahan jauh lebih lama daripada para pengurusnya. Presiden FIFA akan berganti. Ketua UEFA akan berganti. Pengurus federasi akan berganti. Bahkan para pemain terbaik dunia pun pada akhirnya akan meninggalkan lapangan.
 
Tetapi setiap empat tahun sekali, anak-anak akan tetap meminta dibelikan jersey. Orang-orang akan tetap memenuhi kafe, warung kopi, dan ruang tamu. Jutaan alarm akan tetap berbunyi pada dini hari. Dan seseorang akan tetap membangunkan orang lain hanya untuk berkata, "Cepat... pertandingan sudah dimulai."
 
Barangkali di situlah letak sesuatu yang sering gagal dipahami oleh zaman. Warisan tidak pernah bertahan karena organisasi yang mengelolanya. Warisan bertahan karena selalu ada manusia yang bersedia meneruskannya.
 
Mungkin itu pula sebabnya perdebatan ini terasa begitu emosional. Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar model bisnis. Bukan sekadar hak komersial. Pula bukan sekadar investor. Yang sedang dipertaruhkan adalah keyakinan bahwa Piala Dunia masih akan dikenang dengan cara yang sama oleh anak-anak yang bahkan belum lahir hari ini.
 
Masih di momen itu, pukul 01.57.
Lampu ruang tamu masih dimatikan. Secangkir kopi lain perlahan menjadi dingin. Seorang ayah kembali menyentuh pelan bahu anaknya,"Bangun nak, finalnya sudah mulai."
 
Anak itu membuka mata. Di luar rumah, mereka masih memperdebatkannya. Di dalam rumah, seseorang sedang mewariskannya.
 
(N.D. Santoso, Analis Media & Komunikasi Publik)
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan