Vega, 55 tahun, menjadi sosok pertama yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk menghadapi Infantino dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung di Rabat, Maroko, pada 18 Maret 2027.
Mantan bek Timnas Swiss tersebut mengusung agenda reformasi dan ingin mengembalikan kepercayaan terhadap badan sepak bola dunia.
"Saya mencalonkan diri untuk menyatukan kembali keluarga sepak bola dunia, menghadirkan reformasi yang nyata dan berkelanjutan, memodernisasi FIFA untuk abad ke-21, memulihkan stabilitas dan kredibilitas, serta membangun kembali kepercayaan yang sangat dibutuhkan sepak bola," kata Vega seperti dikutip BBC.
Ingin Kurangi Kekuasaan Presiden FIFA
Vega menilai perubahan di FIFA tidak cukup hanya dengan mengganti sosok presiden. Ia menyerukan reformasi mendasar terhadap tata kelola organisasi.
Dalam manifesto kampanyenya, Vega mendorong transparansi, akuntabilitas, serta kontrol yang lebih independen. Ia juga menginginkan institusi FIFA yang lebih kuat sehingga kekuasaan tidak terlalu terkonsentrasi pada satu sosok presiden.
"Saya mencalonkan diri karena hidup saya telah mempersiapkan saya untuk melayani sepak bola," ujar Vega.
Ia juga menilai sepak bola bukan milik presiden, konfederasi, atau administrator, melainkan milik seluruh ekosistem olahraga tersebut, mulai dari pemain, pelatih, wasit, suporter, klub, liga hingga komunitas.
Vega menyebut FIFA membutuhkan arah baru dan reformasi fundamental.
Pernah Bermain di Cagliari dan Tottenham
Nama Ramon Vega cukup dikenal dalam sepak bola Eropa. Bek tengah kelahiran Olten, Swiss, itu memulai karier profesional bersama Grasshoppers sebelum merantau ke Italia.
Vega bergabung dengan Cagliari pada 1996. Namun, kiprahnya di Serie A berlangsung singkat sebelum ia pindah ke Tottenham Hotspur pada Januari 1997.
Bersama Spurs, Vega menjadi bagian dari tim yang menjuarai Piala Liga Inggris pada 1999. Setelah meninggalkan Tottenham, ia sempat memperkuat Celtic, Watford, dan Creteil.
Vega juga mencatat 23 penampilan bersama Timnas Swiss dan menjadi bagian dari skuad negaranya pada Euro 1996.
Setelah pensiun pada 2004, Vega beralih ke dunia keuangan.
Bukan Kali Pertama Vega Ingin Jadi Presiden FIFA
Keinginan Vega untuk memimpin FIFA sebenarnya bukan hal baru.
Ia pernah mempertimbangkan pencalonan pada 2015. Pada 2019, Vega juga berusaha menantang Infantino, tetapi tidak berhasil mengumpulkan dukungan yang diperlukan untuk masuk dalam daftar kandidat.
Vega kembali mencoba maju pada 2022, tetapi pencalonannya saat itu tidak pernah menjadi pencalonan resmi. Kini, ia kembali menyatakan niatnya menjelang pemilihan 2027.
Infantino Ingin Lanjutkan Kepemimpinan
Gianni Infantino telah lebih dulu memastikan akan mencalonkan diri untuk periode berikutnya. Presiden FIFA itu mengumumkan niatnya untuk maju kembali pada Kongres FIFA di Vancouver pada April 2026.
Infantino belakangan menghadapi tekanan terkait sejumlah keputusan FIFA. Salah satunya adalah rencana FIFA Forward Enterprise yang sempat membuka kemungkinan bagi investor swasta untuk membeli kepentingan minoritas dalam kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia. Rencana tersebut kemudian ditinggalkan setelah mendapat penolakan dari sejumlah pihak.
Situasi tersebut turut memicu perdebatan mengenai tata kelola dan transparansi FIFA. Federasi Sepak Bola Italia dan Swiss bahkan telah menarik dukungan terhadap pencalonan Infantino, sementara sejumlah federasi Arab masih menyatakan dukungan kepadanya.
Meski demikian, Infantino tetap berkomitmen maju dalam pemilihan 2027.
Pemilihan presiden FIFA akan berlangsung pada 18 Maret 2027 dalam Kongres FIFA ke-77 di Rabat. Sementara itu, Vega masih harus memenuhi persyaratan pencalonan, termasuk memperoleh dukungan tertulis dari sedikitnya lima asosiasi anggota FIFA sebelum batas waktu 18 November 2026.