Mantan gelandang Timnas Belanda Rafael van der Vaart. (Foto: OLIVER LANG / AFP)
Mantan gelandang Timnas Belanda Rafael van der Vaart. (Foto: OLIVER LANG / AFP)

Piala Dunia 2026

Komentar Van der Vaart Soal Timnas Jepang Bikin Heboh, Organisasi Antirasisme Turun Tangan

Kautsar Halim • 19 Juni 2026 13:52
Ringkasnya gini..
  • Rafael van der Vaart meminta maaf setelah komentarnya tentang pemain Jepang dianggap mengandung stereotip rasial.
  • Komentar itu muncul saat ia menganalisis gol penyeimbang Jepang ke gawang Belanda di Piala Dunia 2026.
  • Organisasi antirasisme Kick It Out dan Frank Soo Foundation mengecam pernyataan tersebut dan meminta penyiar lebih berhati-hati.
Jakarta: Mantan gelandang Timnas Belanda, Rafael van der Vaart, menyampaikan permintaan maaf atas komentarnya yang menjadi kontroversi saat Samurai Biru menghadapi negaranya di Piala Dunia 2026.
 
Van der Vaart menjadi sorotan karena melontarkan pernyataan kontroversial ketika bertugas sebagai analis pertandingan untuk stasiun televisi Belanda, NOS TV.
 
Komentar tersebut muncul setelah bek Belanda Micky van de Ven gagal mengawal pergerakan penyerang Jepang Koki Ogawa yang mencetak gol penyeimbang pada laga yang berakhir imbang 2-2.
 

Komentar Kontroversial Picu Kecaman


Saat menganalisis proses gol Jepang, Van der Vaart mengatakan bahwa para pemain Jepang "terlihat sama", yang kemudian memicu reaksi keras dari publik.

"Semua terlihat sama, mungkin dia berpikir begitu," ujar Van der Vaart ketika membahas kesalahan Van de Ven dalam mengantisipasi pergerakan Ogawa.
 
Pernyataan tersebut segera menjadi perbincangan di media sosial dan dianggap sebagai stereotip rasial terhadap masyarakat Asia Timur.
 
Mantan pemain Tottenham Hotspur yang mengoleksi 109 penampilan bersama Timnas Belanda itu pun mendapat kritik dari berbagai kalangan, termasuk organisasi yang bergerak di bidang antirasisme.
 

Van der Vaart Akhirnya Buka Suara


Menanggapi kontroversi yang berkembang, Van der Vaart menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk menghina atau mendiskriminasi siapa pun.
 
"Saya tidak pernah bermaksud menyinggung, menyakiti, atau mendiskriminasi siapa pun. Saya menentang rasisme dalam segala bentuk dan menghormati orang-orang dari berbagai latar belakang, etnis, dan budaya," kata Van der Vaart seperti dilansir BBC.
 
Pria berusia 43 tahun itu juga menyadari bahwa ucapannya dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian pihak. 
 
"Saya memahami bahwa beberapa orang mungkin menganggap kata-kata saya menyinggung atau menyakitkan. Saya sungguh menyesalkan hal itu," lanjutnya.
 
"Jika komentar saya telah menyebabkan rasa sakit atau kekecewaan, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang tulus. Itu sama sekali bukan niat saya," sambung Van der Vaart.
 

Organisasi Antirasisme Angkat Bicara


Permintaan maaf tersebut muncul setelah organisasi antirasisme Inggris, Kick It Out, bersama Frank Soo Foundation, mengeluarkan pernyataan yang mengecam komentar Van der Vaart.
 
Kedua organisasi menilai pernyataan tersebut merupakan stereotip yang tidak pantas disampaikan, terlebih dalam ajang sebesar Piala Dunia yang disaksikan jutaan orang di seluruh dunia.
 
Mereka juga menyoroti pentingnya tanggung jawab para komentator dan stasiun televisi dalam menjaga penggunaan bahasa selama siaran berlangsung.
 
"Sangat mengecewakan mendengar mantan pemain menyampaikan stereotip rasial terhadap tim Jepang lalu mencoba membelanya sebagai candaan," tulis pernyataan kedua organisasi tersebut.
 
Menurut mereka, meski tidak dimaksudkan sebagai tindakan rasis, komentar semacam itu tetap dapat berdampak pada individu yang menjadi sasaran maupun komunitas Asia Timur dan Asia Tenggara secara lebih luas.
 

Piala Dunia Jadi Sorotan Global


Kick It Out dan Frank Soo Foundation juga mengingatkan bahwa Piala Dunia merupakan ajang dengan jangkauan penonton global yang sangat besar sehingga setiap figur publik harus lebih berhati-hati dalam menyampaikan komentar.
 
Mereka mendorong lembaga penyiaran untuk memberikan edukasi dan pelatihan tambahan kepada para komentator agar insiden serupa tidak terulang di masa mendatang.
 
Kontroversi ini menjadi salah satu perbincangan yang mencuat di luar lapangan selama Piala Dunia 2026, sekaligus kembali mengangkat isu penting mengenai sensitivitas budaya dan upaya memerangi diskriminasi dalam sepak bola.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(KAH)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan