Suasana laga Bosnia & Herzegovina vs Italia. ELVIS BARUKCIC / AFP)
Suasana laga Bosnia & Herzegovina vs Italia. ELVIS BARUKCIC / AFP)

Italia Gagal ke Piala Dunia 2026, Eks Striker AC Milan Ungkap Dugaan Korupsi di Liga Domestik

Kautsar Halim • 02 April 2026 07:33
Ringkasnya gini..
  • Timnas Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah dari Bosnia dan Herzegovina, memperpanjang tren negatif di level internasional.
  • Eks striker AC Milan, Federico Mangiameli, mengungkap dugaan praktik suap hingga Rp982 juta untuk mendorong pemain ke liga seperti Serie C.
  • Dugaan korupsi dan sistem kompetisi yang tidak sehat disebut menjadi faktor utama menurunnya kualitas pemain dan performa Italia di kancah internasional.
Jakarta: Kegagalan timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 bukan sekadar hasil buruk di lapangan. Di balik kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina pada babak play-off, muncul tudingan serius soal dugaan praktik korupsi yang disebut telah lama merusak sepak bola Italia dari dalam.
 
Sorotan tajam datang dari mantan pemain akademi AC Milan, Federico Mangiameli. Ia secara terbuka mengungkap sisi gelap kompetisi domestik Italia yang menurutnya sarat kepentingan, uang, dan manipulasi.
 

Sepak Bola Italia Rusak dari Dalam


Dalam pernyataannya di media sosial, Mangiameli mengaku tidak terkejut dengan kegagalan Italia. Ia menilai masalah utama bukan sekadar performa tim, melainkan sistem sepak bola yang sudah “rusak dari dalam”.
 
"Hanya mereka yang pernah berada di lingkungan ini yang tahu betapa kotornya situasi di balik layar," tulis mantan striker Milan U-17 dan U-19 tersebut.

Kekalahan dari Bosnia memperpanjang tren negatif kegagalan timnas Italia ke Piala Dunia dalam beberapa edisi terakhir. Kondisi ini memicu pertanyaan besar soal kualitas pembinaan pemain. 
 

Dugaan Suap di Liga Italia hingga Rp982 Juta


Mangiameli lantas mengungkapkan adanya praktik suap dalam proses promosi pemain di liga domestik. Agen, kata dia, bisa mengangkat pemain ke level lebih tinggi seperti Serie C dengan membayar 50.000 euro (sekitar Rp982 juta). 
 
Dugaan ini memicu kekhawatiran bahwa sepak bola Italia tidak lagi ditentukan oleh kualitas, melainkan oleh uang dan kepentingan tertentu.
 

Sistem Kompetisi Tidak Sehat


Lebih lanjut, Mangiameli menyoroti kondisi klub-klub di Italia yang dinilai semakin tidak kompetitif. Ia menyebut banyak tim diisi pemain asing dengan gaji tinggi, sementara pelatih tidak memiliki kendali penuh dalam menentukan susunan pemain.
 
Mangiameli bahkan mengaku pernah menyaksikan langsung perlakuan tidak profesional terhadap pemain muda oleh pihak klub. 
 
"Ini bukan lagi soal olahraga, tetapi soal koneksi, uang, dan manipulasi," ujarnya. 
 

Dampak ke Prestasi Timnas Italia


Isu korupsi dan buruknya tata kelola liga disebut berdampak langsung pada performa Timnas Italia. Penurunan kualitas pemain hingga minimnya regenerasi dinilai menjadi faktor utama kegagalan di level internasional.
 
Kegagalan ke Piala Dunia pun dianggap bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan akumulasi dari masalah struktural yang belum terselesaikan.
 

Kontroversi Memanas, Publik Desak Reformasi


Pengungkapan ini muncul di momen sensitif, hanya beberapa jam setelah kekalahan Italia dari Bosnia. Kritik terhadap federasi dan sistem pembinaan pemain semakin menguat. Publik pun menuntut transparansi dan reformasi besar-besaran agar sepak bola Italia bisa kembali ke jalur prestasi.
 
"Apa yang saya lihat akan selalu menjadi cerminan nyata dari korupsi di sepak bola Italia," tutup Mangiameli seperti dikutip dari akun X Rising Stars XI.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(KAH)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan