Medcom.id - Piala Dunia 2002 adalah turnamen yang penuh dengan catatan sejarah baru. Untuk pertama kalinya, ajang sepak bola terbesar jagat raya ini diselenggarakan di benua Asia, sekaligus menjadi edisi perdana yang digarap oleh dua negara tuan rumah secara bersamaan; Korea Selatan dan Jepang.
Bagi jutaan penggemar sepak bola di tanah air, Piala Dunia 2002 memicu memori yang unik karena perbedaan waktu, di mana pertandingan sudah dimulai sejak siang hari. Jadi enggak perlu begadang.
Namun, di atas semua itu, Korea-Jepang 2002 akan selalu diingat sebagai Piala Dunia paling tidak terduga, dipenuhi kejutan ekstrem, kontroversi peluit wasit, dan panggung penebusan sempurna sang Fenomena, Ronaldo Nazario de Lima.
Kuburan Para Raksasa
Sejak hari pertama, Piala Dunia 2002 sudah menegaskan statusnya sebagai kuburan bagi tim-tim raksasa. Di laga pembuka, sang juara bertahan Prancis secara mengejutkan ditumbangkan oleh tim debutan Afrika, Senegal, dengan skor 1-0. Prancis bahkan harus pulang dengan kepala tertunduk di fase grup tanpa mampu mencetak satu gol pun.
Nasib serupa menimpa kandidat juara lainnya, Argentina, yang gugur awal di "Grup Neraka". Tergabung dengan Nigeria, Swedia dan Inggris, Tim Tango hanya menduduki peringkat tiga, kalah bersaing dengan Inggris dan Swedia yang lolos ke babak 16 besar.
Sensasi Korsel dan Skandal Wasit
Di tengah rontoknya para unggulan, Korea Selatan mengukir dongeng paling sensasional dalam sejarah sepak bola Asia. Di bawah asuhan pelatih nyentrik asal Belanda, Guus Hiddink, tim berjuluk Ksatria Taeguk ini bertransformasi menjadi mesin spartan dengan stamina tanpa batas.
Mereka melaju luar biasa hingga menembus babak semifinal -pencapaian tertinggi sebuah negara Asia sepanjang sejarah Piala Dunia-. Dalam kisah dongengnya, Korsel berhasil menaklukkan Portugal (1-0) di fase grup, menang lewat golden goal Ahn Jung-hwan atas Italia. Puncaknya, Korsel menyingkirkan Spanyol lewat drama adu penalti.
Namun, dongeng indah Korea Selatan ini menyisakan noda perdebatan yang awet hingga hari ini. Banyak pengamat menilai kelolosan mereka sangat dibantu oleh serangkaian keputusan wasit yang sangat kontroversial. Dalam laga melawan Italia dan Spanyol, beberapa gol sah lawan dianulir secara janggal, dan kartu merah berbau konspirasi dikeluarkan, memicu kemarahan publik sepak bola Eropa.
Penampilan Nyentrik Ronaldo
Di kubu Brasil, pusat perhatian dunia kembali tertuju pada Ronaldo Nazario. Empat tahun pasca-tragedi kolaps medis di final Piala Dunia 1998 Prancis, Ronaldo datang ke Asia dengan keraguan besar. Ia baru saja pulih dari cedera lutut horor di Inter Milan yang membuatnya absen bermain selama hampir dua tahun.
Memasuki babak perempat final, Ronaldo mengalami cedera otot paha ringan. Media-media internasional mulai mencium berita tersebut dan terus mencecarnya dengan pertanyaan sensitif seputar memori kelam tahun 1998.
Untuk meredam tekanan psikologis tersebut, Ronaldo memutar otak dan mengeksekusi sebuah strategi komunikasi visual yang jenius sekaligus menggelikan.
Ronaldo membuat Keputusan gila. Ia memotong habis rambutnya dan hanya menyisakan sedikit rambut jambul/kuncung di bagian depan kepala. Ronaldo sengaja tampil aneh agar media berhenti membahas cedera pahanya dan beralih mengulas gaya rambut barunya.
Siasat Ronaldo ini ternyata sukses besar. Ia tak hanya berhasil membuat media lupa menanyakan cederanya, tapi juga menghipnotis dunia.
Gaya rambut Ronaldo jadi viral. Ia tak hanya jadi perbincangan pecinta sepak bola. Lebih dari itu, bahkan anak-anak di seluruh dunia mendadak membicarakan rambut kuncung Ronaldo.
"Rambut saya sangat jelek, saya tahu itu. Tapi itu adalah taktik yang bagus karena semua orang akhirnya melupakan cedera saya dan tekanan media langsung mereda," Ronaldo.
Penebusan Sempurna di Yokohama
Bebas dari tekanan mental, Ronaldo menggila di atas lapangan. Bersama Ronaldinho yang sedang naik daun dan Rivaldo, mereka membentuk trio lini depan mematikan yang dijuluki "The Three R". Brasil melenggang mulus ke babak final dengan rekor kemenangan 100%.
Laga final di Stadion Internasional Yokohama mempertemukan dua kekuatan tradisional yang uniknya belum pernah bertemu sama sekali sepanjang sejarah Piala Dunia: Brasil vs Jerman. Jerman digendong oleh ketangguhan kiper terbaik dunia saat itu, Oliver Kahn, yang baru kebobolan satu gol sepanjang turnamen.
Namun, malam itu menjadi panggung penebusan dosa yang tuntas bagi Ronaldo. Ia benar-benar bersinar. Aksi individu dan kombinsinya dengan Ronaldinho dan Rivaldo benar-benar membuat barisan pertahanan Jerman keteteran.
Klimaks penampilan ciamik Ronaldo tersaji di babak kedua. Tak tanggung-tanggung, ia memaksa kiper sekaliber Oliver Kahn dua kali memungut bola dari gawangnya. Brasil menang 2-0 dan resmi merengkuh gelar juara dunia kelima mereka (Penta-Campeão).
Pencapaian Ronaldo semakin mengkilap lantaran ia juga menutup turnamen sebagai Top Scorer dengan koleksi 8 gol, menghapus seluruh air mata dan trauma masa lalunya, serta memahat namanya sebagai salah satu striker terbesar yang pernah dilahirkan dalam sejarah bumi.
Fakta Piala Dunia 2002
- Tuan Rumah: Korea Selatan & Jepang
- Juara: Brasil (Gelar ke-5)
- Runner-up: Jerman
- Top Scorer: Ronaldo (Brasil) – 8 Gol
- Gol Tercepat Sejarah: Penyerang Turki, Hakan Şükür, mengukir rekor abadi dengan mencetak gol hanya dalam waktu 10,8 detik pasca-sepak mula dalam laga perebutan tempat ketiga melawan Korea Selatan.
- Fakta Unik: Akibat mencetak gol kemenangan yang menyingkirkan Italia, striker Korea Selatan Ahn Jung-hwan langsung dipecat dari klubnya, Perugia (klub kasta tertinggi Italia), keesokan harinya oleh pemilik klub yang murka karena merasa negaranya telah dikhianati.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda