Performa Bayern Munich di Liga Champions musim ini nyaris tanpa celah. Tim asuhan Vincent Kompany telah memenangkan 11 dari 12 pertandingan sepanjang kompetisi, dengan satu-satunya kekalahan datang saat mereka dikalahkan Arsenal 3-1 pada fase liga, November lalu.
Raihan 11 kemenangan itu menyamai rekor internal Bayern pada musim 2000/01 dan 2019/20, dua musim di mana mereka berakhir sebagai juara Eropa. Jika kembali menang atas PSG, Bayern akan menyamai rekor 12 kemenangan milik Real Madrid pada musim 2001/02, sebuah pencapaian yang belum pernah disamai klub lain hingga hari ini.
Dominasi Bayern atas PSG
Pertemuan PSG dan Bayern Munich kini sudah menjadi agenda rutin di pentas Liga Champions. Kedua tim telah bertemu sebanyak 15 kali di kompetisi ini, termasuk sembilan pertemuan dalam sembilan musim terakhir, frekuensi yang hanya kalah dari rivalitas Real Madrid versus Manchester City di periode yang sama.
Bayern saat ini memegang keunggulan head-to-head yang signifikan, lima kemenangan beruntun dalam lima pertemuan terakhir melawan PSG di Liga Champions. Kemenangan terbaru datang pada fase liga musim ini, saat Bayern menang 2-1 di Parc des Princes pada November 2025. Rekor dominasi serupa atas satu tim belum pernah dicapai tim lain mana pun di Liga Champions.
Dominasi itu tidak hanya terbatas pada duel di UCL. Secara keseluruhan melawan tim-tim dari Liga Prancis, Bayern memenangkan 14 dari 16 pertandingan terakhir mereka.
Bayern Lampaui Barcelona
Kehadiran Bayern di semifinal musim ini memiliki nilai historis tersendiri. Setelah absen satu musim, Die Roten kembali ke panggung empat besar Liga Champions untuk ke-14 kalinya sepanjang sejarah mereka.
Pencapaian ini membuat Bayern resmi melampaui Barcelona yang memiliki 13 penampilan di semifinal UCL. Kini hanya Real Madrid, dengan 17 penampilan, yang berada di atas mereka dalam daftar tersebut. Die Roten semakin memantapkan diri sebagai salah satu kekuatan paling konsisten dalam sejarah Liga Champions.
Laga Dua Mesin Gol Terbaik Eropa
Aspek paling mencengangkan dari duel ini adalah kesamaan daya gedor kedua tim. Bayern dan PSG sama-sama telah mencetak tepat 38 gol sepanjang Liga Champions musim ini—menjadikan keduanya tim paling produktif di kompetisi.
PSG mencetak rekor klub baru dalam hal jumlah gol di satu musim UCL, sementara Bayern masih memburu rekor mereka sendiri sebesar 43 gol yang diraih pada musim 2019/20. Meski PSG memainkan dua laga tambahan di babak play-off, rata-rata gol Bayern per laga (3,17) tetap lebih tinggi. Hanya dua tim dalam sejarah UCL yang pernah melampaui rata-rata ini: Bayern sendiri pada 2019/20 (3,91 gol/laga) dan PSG pada 2017/18 (3,38 gol/laga).
PSG juga sedang dalam tren luar biasa di fase gugur: mereka mencetak minimal dua gol dalam delapan laga beruntun, menyamai rekor terpanjang dalam sejarah kompetisi yang sebelumnya hanya pernah dicapai Barcelona saat dilatih Luis Enrique. Ironisnya, Luis Enrique kini menangani PSG.
Pencetak Sejarah Baru Inggris di Eropa
Di antara banyak bintang yang tampil musim ini, Harry Kane menjadi salah satu nama yang paling bersinar. Striker timnas Inggris berusia 31 tahun itu mencetak gol dalam kemenangan dramatis 4-3 atas Real Madrid di leg kedua perempat final, membawa total golnya menjadi 12 gol musim ini di Liga Champions.
Tidak ada pemain asal Inggris yang pernah mencetak sebanyak itu dalam satu musim Liga Champions. Sebelumnya, rekor tersebut dipegang oleh Wayne Rooney dan Steven Gerrard dengan total yang jauh di bawah Kane musim ini.
Kane juga mencetak gol dalam lima laga UCL beruntun, menyamai rekor Steven Gerrard yang dicatatkan pada musim 2007/08. Selain gol, ia turut membukukan satu assist musim ini—menjadikannya pemain kedua sepanjang sejarah setelah Cristiano Ronaldo yang mencatatkan 12 atau lebih kontribusi gol (gol + assist) dalam tiga musim Liga Champions berturut-turut.
Dalam daftar kontribusi gol musim ini, Kane berada di posisi bersama Khvicha Kvaratskhelia dan Julián Álvarez dengan 13 kontribusi. Mereka hanya kalah dari Kylian Mbappé yang memimpin dengan 17 kontribusi gol.
(Ahmad Raul)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News