Sempat Unggul, Goyah di Poin Tua
Secara permainan, performa Amri/Nita sebenarnya tidak kalah kelas. Mereka mampu mengimbangi permainan cepat Gicquel/Delrue, bahkan sempat memimpin perolehan skor di kedua gim. Namun, momentum tersebut gagal dipertahankan saat laga memasuki fase krusial.Amri Syahnawi mengakui bahwa masalah terbesar mereka hari ini bukan pada teknis permainan, melainkan manajemen mental di akhir gim.
"Hari ini kesulitannya ada pada diri kami sendiri, ketenangan di poin-poin akhir karena kan tadi sebenarnya mainnya imbang. Dan bahkan kami sempat beberapa kali unggul. Hanya manage poin-poin akhirnya itu yang kalah, taktik strategi di poin-poin akhirnya," ungkap Amri mengevaluasi penampilannya.
Terjebak Psywar
Senada dengan pasangannya, Nita Violina Marwah juga menyesalkan banyaknya kesalahan sendiri yang justru menguntungkan lawan.Baca juga: Gagal Dapat Gelar di BAJC 2026, PBSI Minta Maaf ke Pecinta Bulu Tangkis Indonesia
"Kesalahan sendiri menjadi bumerang, kami kalah tenang juga di poin-poin akhir. Kalau flick servis mereka, saya sudah antisipasi karena memang mereka sering melakukan itu dilihat dari permainan sebelum-sebelumnya," ungkap Nita.Selain masalah internal, Nita membeberkan bahwa duo Prancis tersebut kerap menerapkan taktik non-teknis yang cukup memecah konsentrasi.
"Mereka bermain banyak cara dengan mengulur-ngulur waktu, sering minta istirahat, ganti bola yang sebenarnya masih ok, itu cukup mengganggu kami. Ini pelajaran buat kami untuk bisa maintain emosi, bisa lebih sabar lagi, fokusnya lebih ditahan lagi di situasi-situasi seperti ini," ujar Nita.
Evaluasi Penting untuk Amri/Nita
Kekalahan menyakitkan di Japan Open 2026 ini menegaskan bahwa di level super series, kematangan mental sama pentingnya dengan kesiapan fisik. Menghadapi lawan yang gemar memainkan tempo dan psywar, menjaga fokus dan emosi tetap stabil adalah kunci utama untuk mencuri kemenangan.Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda