Gilang adalah salah satu penerima beasiswa pendidikan (Beswan) Djarum pada 2009. Ia tak melihat adanya bentuk ekspolitasi pada anak yang mendapatkan beasiswa.
"Selama saya dapat beasiswa tak ada upaya mengencourge kami untuk merokok. Bahkan para atlet penerima beasiswa dilarang merokok,"tegasnya kepada medcom.id melalui sambungan telepon di Yogyakarta.
Ia mengakui selama mendapatkan beasiswa, logo dan nama Djarum selalu ada di setiap kegiatan dan pakaian para penerima beasiswa.
Namun, hal ini tidak lantas membuatnya ingin merokok. Walau bersentuhan dengan perusahaan rokok, dia mengaku tidak merokok selama menerima beasiswa Djarum.
"Para atlet penerima beasiswa juga tidak merokok. Peraturannya ketat. Kalau ketahuan, mereka bisa dikeluarkan," katanya.
Namun, ia setuju jika Djarum mencopot segala atribut,logo dan nama djarum dalam audisi beasiswa. Pasalnya logo Djarum Foundation sudah melekat sebagai sebuah perusahaan rokok. Hal ini dikhawatirkan dapat memicu keinginan anak untuk merokok pada masa depan.
Dosen di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini menyarankan pemerintah untuk membuat peraturan yang lebih ketat. Misalnya, perusahaan rokok dilarang menampilkan atribut ataupun membuat kegiatan pada anak- anak berusia di bawah 18 tahun.
"Pemerintah juga sebaiknya lebih banyajk menggandeng swasta untuk menghidupkan olahraga dan para atletnya,"pungkasnya.
Ia berharap agar polemik antara KPAI dan PB Djarum segera menemui kesepakatan yang menguntungkan semua pihak. Sehingga para atlet bisa lebih berkonsentrasi mengejar prestasi.
Gilang menerima beasiswa pendidikan selama satu tahun di Universitas Diponegoro Semarang Jawa tengah.
Video: Lacazete Absen Hingga Oktober Akibat Cedera
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News