Fajar/Fikri Tampil Agresif, Chia/Soh Tak Berkutik
Fajar/Fikri langsung menunjukkan permainan menyerang sejak awal pertandingan final Denmark Open 2026. Menghadapi Chia/Soh yang merupakan salah satu pasangan kuat Malaysia, wakil Indonesia tersebut memilih untuk tidak memberikan kesempatan kepada lawan mengembangkan permainan.Strategi agresif itu terbukti efektif. Fajar/Fikri mampu mengendalikan jalannya pertandingan hingga menutup game pertama dengan kemenangan telak 21-8. Dominasi mereka berlanjut pada game kedua, yang kembali dimenangi dengan skor 21-11.
Fajar mengungkapkan bahwa dirinya dan Fikri sudah cukup mengenal karakter permainan Aaron/Soh. Pengalaman sering berhadapan dengan pasangan Malaysia tersebut menjadi salah satu modal penting dalam menyusun strategi di lapangan.
"Kami sudah sangat sering bertemu Aaron/Soh bahkan sejak sebelum kami berpasangan jadi sudah tahulah kelemahan dan kelebihan masing-masing," ujar Fajar.
Ia juga menjelaskan bahwa kondisi shuttlecock yang melaju sangat cepat membuat mereka memilih bermain menyerang daripada bertahan. Pendekatan tersebut membuat Fajar/Fikri mampu menjaga tekanan sepanjang pertandingan dan mengamankan gelar juara tanpa harus memainkan game ketiga.
"Shuttlecock sangat kencang lajunya jadi kami tidak mau bermain bertahan, kami dari awal selalu menekan, selalu bermain menyerang jadi lawan juga tidak bisa berkembang," papar Fajar.
Tebus Kegagalan di Final Tahun Lalu
Keberhasilan menjuarai Denmark Open 2026 terasa istimewa bagi Fajar Alfian. Pasalnya, ia masih mengingat kegagalan meraih gelar pada final tahun sebelumnya.Kali ini, Fajar dan Fikri mampu membalikkan keadaan dengan menampilkan permainan solid hingga memastikan diri berdiri di podium tertinggi. Ia berharap kemenangan tersebut menjadi awal dari pencapaian yang lebih baik pada masa mendatang.
"Alhamdulillah sangat bersyukur setelah tahun lalu gagal di final, kali ini kami bisa menjuarai Denmark Open," kata Fajar. Menurutnya, gelar juara ini juga dapat meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri mereka sebagai pasangan ganda putra Indonesia. Fajar turut mengungkapkan bahwa kekalahan di Asian Games sebelumnya menjadi dorongan bagi mereka untuk kembali berjuang dan membuktikan kemampuan di lapangan.
"Semoga menjadi awal untuk prestasi kami ke depannya lebih lagi ya, motivasi dan percaya diri lebih meningkat. Kekalahan di Asian Games kemarin memacu kami berdua untuk mencapai hasil yang terbaik lagi," lanjutnya.
Tak Mau Cepat Puas
Sementara itu, Muhammad Shohibul Fikri menegaskan bahwa keberhasilan menjuarai Denmark Open 2026 tidak boleh membuat mereka cepat berpuas diri. Bagi Fikri, setiap pertandingan harus dihadapi dengan pola pikir baru.Ia ingin menjaga semangat dan fokus agar bisa terus memberikan penampilan terbaik, terlepas dari hasil yang diraih sebelumnya. Fikri juga mengaku berusaha meluapkan semangatnya di partai final.
"Pasti mindset saya setiap pertandingan itu saya anggap awal lagi, baru lagi, dari nol lagi. Jadi kami jangan cepat puas juga," ujar Fikri.
Baginya, pertandingan tersebut menjadi kesempatan untuk menebus rasa kecewa setelah gagal menjadi juara pada final Denmark Open tahun lalu. Semangat tersebut menjadi salah satu dorongan bagi Fikri untuk tampil maksimal bersama Fajar.
"Seperti tadi main di final, sayang banget kalau nggak semangat makanya tadi saya coba teriak-teriak untuk menebus rasa sedih tahun lalu yang sebetulnya bisa juara dan saya ingin memperbaikinya termasuk juga kekalahan di Asian Games kemarin," ungkapnya.
Pengalaman Fajar Jadi Motivasi bagi Fikri
Fikri juga mengakui bahwa pengalaman Fajar Alfian memberikan banyak pelajaran berharga dalam menghadapi pertandingan besar, terutama di partai final. Menurutnya, pengalaman bertanding yang dimiliki Fajar membantu dirinya membangun mental yang lebih matang."Kalau sebelumnya, untuk saya terutama sering tidak maksimal ketika di final tapi tahun ini dengan pengalaman a Fajar yang sudah melanglangbuana jadi banyak pelajaran dan motivasi yang saya dapat," beber Fikri.
Ia menambahkan bahwa kedewasaan dalam berpikir turut membantunya mengurangi tekanan saat bertanding. Alih-alih terlalu memikirkan hasil akhir, Fikri memilih berfokus pada usaha yang bisa dilakukan di lapangan.
"Selain itu, mungkin saya juga sudah semakin dewasa jadi tidak terlalu banyak yang dipikirkan. Saya mencoba untuk sudah nggak usah banyak terlalu mikir apa-apa, yang penting banyak usaha, ikhtiar dan doa," lanjutnya.