Marcus Fernaldi GIdeon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Dok. PBSI)
Marcus Fernaldi GIdeon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Dok. PBSI)

Kaleidoskop Bulu Tangkis Nasional 2018: Kisah Hebat Marcus/Kevin, Liliyana Pensiun, dan Sensasi Jojo Raih Gelar Asian Games 2018

Olahraga bulu tangkis
Patrick Pinaria • 31 Desember 2018 10:40
Jakarta: Tahun 2018 menjadi salah satu periode yang meninggalkan banyak kenangan di dunia bulu tangkis, terutama bagi para atlet Indonesia. Sebab, berbagai prestasi banyak ditorehkan beberapa di antara mereka sepanjang tahun ini.

Perjalanan ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo menjadi salah satu kisah menarik dalam bulu tangkis pada 2018. Sebab, mereka menjadi atlet Tanah Air yang paling banyak menorehkan gelar dalam periode tersebut.

Namun, kisah tidak kalah hebat juga dihadirkan oleh salah satu tunggal putra Indonesia Jonatan Christie untuk pencinta bulu tangkis pada 2018. Salah satunya adalah keberhasilannya meraih medali Asian Games 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Selain perjalanan ketiga atlet tersebut, masih banyak momen menarik dalam dunia bulu tangkis 2018. Berikut di antaranya yang dirangkum Medcom.id: Marcus/Kevin Torehkan Sembilan Gelar

Tahun 2018 bisa dikatakan menjadi panggung bagi Marcus/Kevin di dunia bulu tangkis. Sebab, mereka mampu menunjukkan penampilan impresif dalam periode itu. Sembilan gelar diraih mereka menjadi bukti sahihnya.

Marcus/Kevin mengawali kisah hebatnya di Indonesia Masters yang digelar pada Januari 2018. Mereka sukses menjadi juara pada turnamen tersebut usai menaklukkan Li Junhui/Liu Yuchen di babak final lewat rubber game 11-21, 21-10, 21-16.

Tren positif berhasil dilanjutkan Kevin/Marcus dalam dua turnamen berikutnya. Di antaranya adalah India Open dan All England. Mereka mampu meraih gelar dalam dua turnamen tersebut.

Namun, keberhasilan Marcus/Kevin menjuarai All England 2018 menjadi salah satu momen menarik di kalangan publik. Bukan apa-apa. Sebab, mereka mampu mempertahankan gelar yang sudah direbut dalam kejuaraan tersebut pada 2017.

Dengan kesuksesan itu pula menjadikan Marcus/Kevin sebagai ganda putra Indonesia ketiga yang berhasil menjadi juara All England secara beruntun. Sebelumnya, catatan tersebut dicatatkan oleh Tjun Tjun/Johan Wahyudi dan Rexy Mainaky/Ricky Subagja.

Marcus/Kevin kembali menunjukkan taji di Indonesia Open 2018. Pada turnamen tersebut, mereka sukses meraih gelar usai menundukkan Takuto Inoue/Yuki Kaneko lewat dua game langsung 21-13, 21-16.

Gelar ini setidaknya menjadi pelipur lara bagi Marcus/Kevin lantaran gagal di turnamen sebelumnya, Malaysia Open 2018. Mereka harus tersingkir di babak perempat final setelah dikalahkan ganda putra Tiongkok He Jiting/Tan Qiang lewat dua game 17-21, 11-21. 

Selain itu, keberhasilan meraih gelar di Indonesia Open juga terasa istimewa buat Marcus/Kevin. Sebab, ini menjadi gelar pertama diraih mereka pada ajang tersebut.

Hasil pahit kembali diterima Marcus/Kevin di Kejuaraan Dunia 2018 pada Agustus. Mereka gagal meraih gelar setelah disingkirkan ganda Jepang Takeshi Kamura/Keigo Sonoda di babak perempat final.

Kegagalan di Kejuaraan Dunia tidak membuat semangat Marcus/Kevin patah arang. Mereka terus menunjukkan performa impresif mereka di turnamen lain. Salah satunya adalah Asian Games 2018. 

Pada pesta olahraga terbesar Asia itu, Marcus/Kevin berhasil meraih medali emas setelah mampu memenangi "perang saudara" di babak final. Pada babak itu, mereka mengalahkan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto lewat rubber game 13-21, 21-18, 24-22.

Marcus/Kevin terus tampil oke di beberapa kejuaraan berikutnya. Di antaranya adalah Japan Open, Denmark Open, China Masters, Hong Kong Open. 

Hanya saja, mereka gagal meraih prestasi di ajang BWF World Tour Finals. Mereka harus mengundurkan diri dari turnamen tersebut karena mengalami cedera.

Meski gagal di turnamen tersebut, perjalanan Marcus/Kevin pun layak mendapat banyak pujian. Bagaimana pun, pencapaian mereka dalam meraih sembilan gelar pada 2018 menjadi kisah hebat. Total gelar itu juga membuat mereka melampaui pencapaian sendiri pada 2017. Pada tahun lalu, mereka mampu menggondol tujuh gelar.

Rencana Liliyana Natsir Pensiun

Selain kisah heroik Marcus/Kevin, rencana keputusan pensiun pebulu tangkis andalan Tanah Air Liliyana Natsir juga menjadi kisah yang menarik perhatian di dunia bulu tangkis. 
Rencana keputusan Liliyana pensiun pun sempat simpang siur. Sebab, sang atlet tidak mengumumkan secara pasti kapan ia akan pensiun.

Bahkan, sejumlah media pun meyakini dan ramai memberitakan Liliyana akan pensiun pada Oktober. Tepat setelah ia tampil di ajang Denmark Open dan French Open.

Namun, kepastian gantung raket akhirnya diumumkan oleh Liliyana pada akhir November. Ia memastikan pensiun setelah mengikuti ajang Indonesia Masters 2019. Ajang ini pun akan menjadi momen terakhir para pencinta bulu tangkis melihat permainan Tontowi/Liliyana atau yang biasa dikenal Owi/Butet.

"Saya tidak berpikir tampil di Indonesia Masters sebagai turnamen terakhir. Tapi, hasil diskusi dengan pelatih dan tim PBSI memutuskan bahwa saya dan Owi akan tampil terakhir kali di Istora," kata Liliyana dalam keterangan tertulis PBSI, Selasa (27/11/2018).

Sebelum menghadapi kejuaraan tersebut, Liliyana mengikuti turnamen Kejuaraan Nasional PBSI 2018 yang digelar pada Desember. Pada turnamen itu, ia tergabung dalam klub PB Djarum di grup B Divisi 1.

Namun, perjalanannya bersama PB Djarum di Kejurnas PBSI tidak mulus. Sebab, mereka harus terhenti di babak semifinal.

Sensasi Jonatan Christie Raih Medali Emas di Asian Games 2018

Asian Games 2018 tidak hanya menghadirkan cerita menarik buat Marcus/Kevin. Namun, pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Jonatan Christie juga sanggup menyita perhatian publik karena pencapaiannya dalam meraih medali emas pada pesta olahraga terbesar di benua Asia itu.

Keberhasilan Jonatan meraih medali emas mungkin di luar dugaan saat itu. Mengingat, ia tampil buruk saat memperkuat Indonesia menghadapi Tiongkok dalam kategori beregu putra di babak final.

Di babak final, Jonatan turun di pertandingan ketiga untuk menghadapi Chen Long. Saat itu, Indonesia dalam kedudukan imbang 1-1 setelah Marcus/Kevin mampu meraih kemenangan atas Li Junhui/Liu Yuchen di pertandingan kedua.

Sayangnya, Jojo gagal menyumbang poin untuk Indonesia lantaran kalah dari Long lewat rubber game 21-19, 16-21, 18-21. Kekalahan tersebut membuat Indonesia tertinggal 1-2.

Hingga akhirnya, Indonesia harus kalah dari Tiongkok dengan skor 1-3 setelah perwakilan keempat Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto kalah dari Zhang Nan/Liu Cheng dengan skor 18-21, 21-17, 19-21.

Hasil minor didapat di kategori beregu putra tidak membuat Jonatan patah arang. Ia justru mampu membayar kegagalannya di kategori individu. 

Jonatan terus menuai kemenangan dan melaju ke babak final. Pada babak itu, ia menghadapi unggulan Taiwan Chou Tien Chen, 28 Agustus. 

Jojo pun tidak mudah meraih kemenangan tersebut. Ia harus mengalahkan Chou lewat rubber game 21-18, 20-22, dan 21-15.

Prestasi ini menjadi spesial buat pebulu tangkis 20 tahun itu. Sebab, ini gelar juara pertama bagi dirinya di ajang Asian Games. Khusus di sektor tunggal putra, Jojo sukses mengakhiri dahaga tunggal putra untuk meraih emas Asian Games sejak terakhir kali diraih Taufik Hidayat pada Asian Games 2006 di Doha, Qatar.

Keberhasilan ini juga membuat Indonesia menambah pundi medali emas saat itu. Total, Indonesia mengemas 23 emas berkat prestasinya.

 


(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi