Pebulu tangkis PB Djarum, Muhammad Aldo Afriyandi (Dok. PB Djarum)
Pebulu tangkis PB Djarum, Muhammad Aldo Afriyandi (Dok. PB Djarum)

Pebulu Tangkis PB Djarum Respons Penghentian Audisi Umum

Olahraga PB Djarum vs KPAI
Rendy Renuki H • 10 September 2019 14:49
Jakarta: PB Djarum memutuskan menghentikan audisi umum beasiswa bulu tangkis mulai 2020 mendatang. Tudingan eksploitasi anak yang dianggap secara tak langsung memasarkan merk rokok oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjadi penyebabnya.
 
Tim bulu tangkis yang bermarkas di Kudus, Jawa Tengah itu pun memutuskan menyetop audisi yang telah digelar sejak 2006. Melihat hal tersebut, para pebulu tangkis PB Djarum pun angkat bicara.
 
Salah satunya adalah Tontowi Ahmad. Pebulu tangkis andalan Indonesia di sektor ganda campuran itu menilai penghentian audisi akan mengubur mimpi anak-anak menjadi atlet profesional.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penghentian ini mengubur mimpi anak-anak, sangat disayangkan. Saya kan atlet binaan Djarum, saya merasakan juga," kata Tontowi yang merupakan pebulu tangkis PB Djarum angkatan 2005, Selasa 10 September.
 
Audisi tersebut menurutnya sangat membantu bibit pebulu tangkis, terutama yang berada di daerah. Sebab sangat sulit mendapatkan akses dari daerah untuk bisa masuk dan dilirik tim besar.
 
"Sebagai orang kampung, untuk akses ke klub besar itu sulit tesnya tanpa audisi Djarum ini. Apalagi saya orang kampung, ya mau bagaimana, badminton maunya lewat, kan aksesnya sedikit," sambung pebulu tangkis asal Banyumas, Jawa Tengah.
 
Pun begitu dengan pebulu tangkis muda binaan PB Djarum, Muhammad Aldo Afriyandi. Ia mengakui beasiswa bulu tangkis PB Djarum memiliki andil besar dalam perjalanan kariernya.
 
"Audisi di stop pasti sangat sedih dan merugikan atlet-atlet muda di luar sana. Jalan satu-satunya masuk Djarum adalah audisi dan tes pribadi. Tidak semua orang bisa tes pribadi, tapi kalau audisi siapa pun bisa ikut," ujar pebulu tangkis PB Djarum angkatan 2013 tersebut saat dihubungi secara terpisah.
 
"Kedua, tidak semua orang di luar pulau atau pelosok punya biaya buat badminton. Dan Djarum sudah memberi harapan lewat audisi agar anak di luar sana bisa dapat beasiswa," sambung semifinalis Jerman Junior Internasional 2019 itu.
 
Baik Tontowi dan Aldo pun mengakui tidak ada dampak negatif bergabung dengan PB Djarum. Meski mengusung merk rokok, namun menurut keduanya mengakui jika berurusan dengan rokok akan berakibat fatal bagi kariernya.
 
"Menurut saya masuk ke situ enggak ada rugi dan negatifnya. Semua tergantung diri sendiri. Enggak ada Djarum legalin atletnya merokok, mereka justru melarang," tutur Tontowi.
 
"Di Djarum itu atlet-atletnya dilarang merokok. Ketahuan merokok bisa dikeluarkan," pungkas Aldo.
 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif