Museum dengan luas sekitar 4.200 meter persegi dan mempunyai empat lantai ini akan menampilkan sejarah perkembangan bulu tangkis global, pertumbuhan dan pencapaian BWF, turnamen-turnamen besar dan kisah-kisah legenda.
BWF Museum adalah kerja sama antara BWF, Chinese Badminton Association, Qingdao Sports Bureau, Qingdao West Coast New Area Management Committee dan Shiyu Sports Co. Ltd.
"BWF bekerja bersama lima organisasi untuk membangun museum yang akan menjadi tempat edukasi tentang olahraga bulu tangkis. Museum berada di dalam kawasan yang besar yang disebut BWF Qingdao International Exchange Center. Ada museum, stadion, dan area ruang terbuka," ucap Stuart Borrie, Project Director BWF.
"Museum ini akan menunjukkan sejarah bulu tangkis, tentang Badminton World Federation dan tentang turnamen-turnamen terkenal seperti Thomas Cup, Uber Cup, Sudirman Cup dan lainnya. Ini akan memberikan pengalaman bagi orang untuk datang, belajar dan menikmati sejarah olahraga kita tercinta ini," lanjut Stuart.
Baca juga: Indonesia Masters 2026: Alwi jadi Satu-satunya Tunggal Putra di Perempat Final
Dalam menyukseskan ide dari museum ini, para juara dan legenda Indonesia memberikan sumbangsih berupa tanda tangan di foto bersejarah dan membubuhkan handprint untuk dipajang. Mereka di antaranya adalah Rudy Hartono, Imelda Wigoena, Ricky Soebagdja, Icuk Sugiarto, Hariyanto Arbi, Hendrawan, Susy Susanti, Alan Budikusuma, Sigit Budiarto hingga Hendra Setiawan, Mohammad Ahsan dan Tontowi Ahmad."Kami membuat arena ruang terbuka yang bernama Starlight Plaza. Starlight Plaza menunjukkan para peraih medali emas Olimpiade dan Juara Dunia. Jadi jika anda sang juara anda dapat menunjukkan tanda tangan dan handprint di sana sebagai simbol kemenangan di level tertinggi," kata Stuart.
Stuart menyampaikan bahwa harapan BWF adalah saat orang datang ke Qingdao, mereka tidak hanya melihat kota yang indah tapi juga bisa belajar tentang olahraga bulutangkis.
"Qingdao merupakan tempat yang terkenal karena di Olimpiade Beijing 2008, kota ini merupakan tempat penerbangannya. Kota ini adalah kota olahraga yang juga memiliki populasi pemain bulutangkis yang sangat banyak, sahut Stuart.
"Kami berharap orang akan datang ke Qingdao bukan hanya untuk melihat sebuah kota yang indah tetapi juga untuk melihat museum dan belajar tentang sejarah bulutangkis, belajar tentang pemenang dan belajar tentang orang dalam olahraga kita. Museum ini harus menjadi sebuah pusat yang menarik orang untuk pertukaran sejarah dan budaya," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News