Mia telah lama meninggalkan Indonesia dan berpindah kewarganegaraan menjadi warga negara Belanda. Ia merupakan pemain tunggal putri Indonesia yang dulu digadang-gadang sebagai penerus Susi Susanti yang berjaya di Olimpiade.
Namun, belum lama ia membela Indonesia, Mia keburu hijrah ke Negeri Kincir Angin mengikuti suaminya Tylio Lobman.
Peraih perunggu Olimpiade 1996 Atlanta itu berada di Jakarta saat PBSI mengundangnya menghadiri acara ulang tahun induk organisasi bulu tangkis Indonesia itu. Mia pun datang demi memberi dukungan pada tim Indonesia.
Mia di usia mudanya sudah berpengalaman memperkuat tim Piala Uber Indonesia pada 1994 dan 1996. Berkaca dari pengalamnnya tersebut, ia yakin tim Piala Uber bisa tampil lebih kuat ketimbang pencapaian di kejuaraan individu. Hal itu berlaku untuk Piala Uber 2014 meski tim Indonesia menjadi tim underdog.
"Biar bagaimanapun, keadaan di lapangan itu berbeda dengan yang ada di atas kertas. Semua bisa terjadi. Yang penting jangan takut kalah dan selalu berdoa meminta ketenangan dari Tuhan,” ujarnya.
Perempuan berusia 34 tahun itu juga tidak bisa mengamini jika sepeninggal dirinya, sektor tunggal putri meluncur bebas ke tangga terbawah. Prestasi pemain putri Indonesia belum ada yang berkibar di tingkat dunia dan hanya mentok di level Asia Tenggara.
Mia mengatakan hal itu bisa jadi karena justru lawan-lawan Indonesia yang kini kekuatannya sudah merata. Dengan kata lain, bisa jadi negara lain berlari lebih cepat dari pada Indonesia.
"Saya nggak bisa bilang sektor putri menurun dan tidak bisa menilai faktor apa yang jadi pengganjal. Dari sisi support, saya lihat sekarang support dari organisasi dan sponsor terjadap atlet sudah bagus sekali dibanding zaman saya dulu. Kalau masalah preatasi, mungkin karena lawan yang kekuatannya sudah merata. India misalnya, sekarang sudah bagus itu atlet-atletnya, dulu belum," paparnya. (Maggie Nuansa Mahardika)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News