Legenda Bulutangkis Tiongkok: Orang Indonesia Dilahirkan untuk Badminton

Cecylia Rura 21 September 2018 19:53 WIB
Huang Hua
Legenda Bulutangkis Tiongkok: Orang Indonesia Dilahirkan untuk Badminton
Huang Hua (Foto: Dok. pribadi)
Jakarta: Bukan hal mudah bagi Huang Hua (48) mantan atlet bulu tangkis asal Tiongkok lepas dari 'titel' atlet unggulan pada era 1990-an. Setelah dipersunting Tjandra Budi Darmawan, pebisnis asal Klaten, Huang banyak menghabiskan waktu di rumah.

Nama Huang Hua jadi pemberitaan lantaran jadi pemain ketoprak di Klaten, dalam sebuah acara amal. 

Baca juga: Cerita Huang Hua, Legenda Bulu Tangkis Tiongkok yang Bermain Ketoprak di Klaten


Selama 23 tahun di Klaten bersama sang suami Tjandra Budi Darmawan (50), Huang Hua sempat mendapat tawaran sebagai pelatih badminton untuk beberapa klub olahraga. Termasuk, tawaran dari pusat pelatihan untuk atlet nasional (pelatnas).

"Sesekali ada. Kayak klub pernah. Sama pelatnas pun pernah. Tapi, saya kan ikut suami menetap di daerah sini (Klaten). Misalnya, saya menjadi pelatih harus ke Jakarta. Sementara bisnis suami saya semuanya di daerah sini," kata Huang saat dihubungi Medcom.id melalui sambungan telepon, Jumat, 21 September 2018.

"Pernah juga dipertimbangkan (tawaran itu), soalnya saya merasa badminton sebagai part of my life. Jadi, kadang pingin banget ke lapangan badminton lagi. Tapi, dengan berjalannya waktu, anak semakin besar, lama-lama keinginan jadi ditahan," lanjutnya.

Menurutnya, menjadi seorang pelatih badminton harus berdedikasi dan mengerti kondisi anak asuhnya. Sementara, dia tidak bisa meninggalkan keluarga yang kini bermukim di Klaten, Jawa Tengah. Di samping itu, ketiga anak Huang dan Tjandra sudah besar dan bekerja.

"Karena jadi pelatih badminton itu harus berdedikasi tinggi. Harus meluangkan banyak waktu di lapangan. Semua waktu diberikan kepada pemain, harus tahu kondisi pemain seperti apa. Jadi, saya sekarang memilih menemani suami saya saja," kata Huang.

Kendati dalam riwayat Huang dikenal sebagai sosok atlet legendaris, rupanya ketiga putranya enggan mengikuti jejak Huang. "Enggak ada. Anak saya tiga-tiganya enggak main bulu tangkis," paparnya.

Melihat perkembangan bulu tangkis di Indonesia, Huang turut bangga dan terus memberikan dukungannya untuk cabang olahraga yang membesarkan namanya itu.

"Saya melihat. Sekarang Susy Susanti yang pegang PBSI. Saya selalu yakin kalau di tangan baik, bulutangkis Indonesia pasti baik. Soalnya, seperti yang saya pernah katakan 'Indonesian born to play badminton'. Jadi, mereka secara teknik, skill semua ada. Dari zaman dulu sampai sekarang mereka enggak pernah kurang juara. Saya merasa sekarang bisa dilihat setelah Susy pegang pun prestasinya mulai membaik. Saya support Susy dan teman-teman. Saya ikuti perkembangan mereka dan sering komunikasi dengan mereka, support mereka. Dari sisi saya, mikir, itu mau lihat prestasi kadang butuh proses. Jadi ke depan saya yakin mereka bisa," kata Huang.

Sejak pemberitaan Huang Hua ramai, banyak komentar di media sosial yang turut memberi saran agar Huang Hua ikut melatih para atlet cabang olahraga bulu tangkis. Huang menanggapinya dengan positif. Prestasi Huang Hua tidak bisa dianggap remeh, dia turut membawa tim Tiongkok juara Piala Uber tahun 1990 dan 1992. Dia juga menjadi runner-up World Championship tahun 1989.

"Susy dan timnya, mereka lebih tahu. Saya akan sebagai teman selalu support mereka. Misalnya ada, saya pasti di situ, bantu," pungkasnya.

Aksi Huang Hua ambil bagian dalam pentas ketoprak di SD Kristen 3, Klaten, membuktikan bahwa sang bintang mampu beradaptasi dengan baik, bahkan di sebuah tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. 

 



(ELG)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id