Bukan sekadar kemampuan di lapangan yang menjadi cerita. Ada peserta yang rela pindah kota untuk berlatih lebih keras, ada yang kembali mengikuti audisi setelah gagal pada kesempatan sebelumnya, dan ada pula yang memperketat pola latihan serta menjaga asupan demi mengejar mimpi menjadi pemain dunia.
Perjuangan mereka sejalan dengan penilaian Tim Pencari Bakat yang melihat munculnya sejumlah talenta putri menjanjikan di Kudus.
Bibit Putri Dinilai Menjanjikan
Legenda PB Djarum sekaligus anggota Tim Pencari Bakat Audisi Umum Bulutangkis 2026, Yuni Kartika, menilai kualitas peserta putri di Kudus cukup menggembirakan.
Meski jumlah peserta putri lebih sedikit dibandingkan sektor putra, Yuni menegaskan kondisi tersebut tidak berarti kualitasnya rendah. Justru, Tim Pencari Bakat harus lebih jeli membaca potensi setiap peserta.
“Secara jumlah, atlet putri memang lebih sedikit dibandingkan peserta audisi putra. Maka kami benar-benar harus pintar memperhatikan para atlet yang memiliki potensi. Tapi walaupun jumlahnya sedikit, bukan berarti kualitasnya juga tidak baik,” kata Yuni.
Menurut Yuni, kemampuan teknik dasar para peserta relatif baik. Potensi juga terlihat pada kelompok usia paling muda, yakni U-11.
Namun, kemampuan bermain bukan satu-satunya faktor yang dinilai. Fisik dan mental peserta juga akan menjadi perhatian ketika mereka memasuki tahap karantina.
“Untuk teknik dasar rata-rata relatif banyak yang sudah baik. Kemudian, penyebaran asal peserta juga cukup merata dan kalau melihat potensi, cukup menggembirakan karena untuk usia paling bawahnya itu (U-11), banyak yang menjanjikan,” ujar Yuni.
Pindah Kota Demi Mengejar Mimpi
Salah satu peserta yang menunjukkan dedikasi tinggi adalah Fiendiziya Gwen Fernandes.
Pebulu tangkis U-11 asal Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, itu bahkan rela pindah ke Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, demi mendapatkan kesempatan berlatih lebih intensif sebelum mengikuti Audisi Umum PB Djarum 2026 di Kudus.
Kerja keras tersebut mulai membuahkan hasil.
Gwen tampil percaya diri pada tahap screening dan memastikan tiket menuju Tahap Turnamen setelah mengalahkan Aishya Azzalea dari Kabupaten Kendal dengan skor 21-8.
Bagi Gwen, PB Djarum bukan sekadar klub. Ia ingin mendapatkan kesempatan bertanding di level internasional dan mengikuti jejak para atlet PB Djarum yang telah berprestasi.
“Aku mau ikut PB Djarum karena PB Djarum itu salah satu klub besar yang sering juara di turnamen-turnamen. Terus aku juga mau ikut pertandingan internasional dan berprestasi seperti atlet-atlet PB Djarum,” kata Gwen.
Ini merupakan kali pertama Gwen mengikuti Audisi Umum PB Djarum. Ia mengakui sempat grogi karena menghadapi lawan yang cukup berat.
Namun, Gwen sudah menyiapkan strategi untuk menghadapi tahap berikutnya.
“Sekarang aku harus istirahat yang cukup. Setelah itu kembali melatih pukulan, speed dan penempatan bola supaya lebih siap. Semoga aku bisa bermain dengan tenang di tahapan selanjutnya,” ujarnya.
Belum Berhasil di Makassar, Yukiko Kembali Mencoba
Perjuangan lain datang dari Yukiko Graciela Manangkot.
Pebulu tangkis KU-12 asal Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, itu bukan wajah baru dalam Audisi Umum PB Djarum 2026. Sebelumnya, Yukiko mengikuti audisi di Makassar pada Agustus lalu dan berhasil melaju hingga semifinal.
Namun, langkahnya terhenti sebelum mendapatkan Super Tiket.
Kegagalan tersebut tidak membuat Yukiko menyerah. Ia kembali datang ke Kudus untuk mengejar peluang yang sama.
Pada tahap screening, Yukiko kembali menunjukkan kemampuannya dengan mengalahkan Diandira Bilqis Ufaira dari Kabupaten Blora dengan skor 21-13. Hasil itu membawanya melangkah ke tahap berikutnya. ([Antara News][2])
Yukiko mengaku ingin bergabung dengan PB Djarum karena melihat kesempatan besar untuk berkembang melalui fasilitas dan program latihan yang tersedia.
“Aku ingin sekali bergabung dengan PB Djarum karena fasilitas dan latihannya pasti terjamin. Orang tua juga sudah mendukung penuh,” kata Yukiko.
Dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam perjuangannya. Orang tua Yukiko selalu mengantar latihan dan mendampinginya hingga kembali mengikuti audisi di Kudus.
Ia pun menjadikan kegagalan di Makassar sebagai pengalaman untuk terus berkembang.
“Kesempatan ikut audisi ini akan jadi pengalaman berharga aku untuk terus berlatih dan pantang menyerah hingga mencapai targetku sendiri,” ujar Yukiko.
Gagal Tahun Lalu, Gracia Kembali dengan Persiapan Lebih Matang
Tekad serupa ditunjukkan Lusia Maheswari Gracia Pengajeng dari Magelang, Jawa Tengah.
Gracia kembali mengikuti Audisi Umum PB Djarum setelah tahun lalu terhenti pada Tahap Turnamen. Kegagalan tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk mempersiapkan diri lebih baik tahun ini.
Target Gracia pun besar. Ia ingin menjadi pemain bulu tangkis kelas dunia.
“Mimpi terbesar saya pastinya mau jadi pemain dunia. Makanya saya mau masuk PB Djarum karena banyak yang jadi pemain dunia dari sini,” kata Gracia.
Untuk mengejar target tersebut, Gracia meningkatkan intensitas latihannya. Ia berlatih satu kali sehari setelah pulang sekolah dan menjaga pola hidup selama persiapan menuju Kudus.
Penggunaan ponsel juga dibatasi agar konsentrasinya tidak terganggu. Pola makan pun dijaga demi memastikan kondisi fisiknya tetap prima.
“Tahun lalu saya belum bisa lolos karena kalah di Tahap Turnamen. Tapi saya mau membuktikan diri, makanya mau ikut lagi tahun ini. Jadi persiapannya lebih keras lagi. Latihannya yang kencang dan tidak boleh kendor,” ujar Gracia.
Super Tiket Jadi Gerbang Berikutnya
Perjuangan para peserta Audisi Umum PB Djarum 2026 Kudus belum selesai.
Setelah tahap screening pada 9 dan 10 September, rangkaian audisi berlanjut ke Tahap Turnamen pada 11 hingga 13 September. Pada hari terakhir, peserta yang berhak mendapatkan Super Tiket akan diumumkan.
Untuk sektor putra, Super Tiket diberikan kepada peserta yang mampu mencapai babak semifinal. Sementara peserta putri harus menembus final. Namun, peluang tidak hanya ditentukan oleh hasil pertandingan.
Tim Pencari Bakat juga memiliki hak memberikan Super Tiket Pilihan kepada peserta yang dinilai memiliki potensi besar, meski belum mampu mencapai semifinal atau final. Artinya, perjalanan para pebulu tangkis muda tersebut masih terbuka lebar.
Super Tiket juga bukan akhir dari proses. Peserta yang mendapatkannya akan menjalani karantina selama empat pekan di asrama PB Djarum.
Pada tahap tersebut, mereka akan menjalani kehidupan sebagai atlet dan mendapat penilaian lebih menyeluruh, mulai dari teknik, fisik, mental hingga kedisiplinan.