Kesulitan Membaca Pukulan Lawan
Salah satu kendala yang dihadapi Rachel/Febi adalah sulitnya membaca arah dan jenis pukulan Treesa Jolly. Variasi serangan pemain India tersebut membuat pasangan Indonesia tidak mudah menentukan antisipasi yang tepat.Rachel menilai gestur pukulan Jolly menjadi salah satu faktor yang menyulitkan mereka sepanjang pertandingan. Ia mengaku kesulitan menebak apakah lawan akan melancarkan smash keras atau memilih dropshot untuk mengecoh pertahanan.
"Gestur pukulan Jolly juga tidak terbaca, tidak tertebak mau smash atau dropshot. Ini pelajaran lagi untuk saya. Ke depan kami juga harus belajar cepat beradaptasi dengan perubahan pola lawan," beber Rachel.
Menurut Rachel, kemampuan membaca permainan lawan harus diimbangi dengan respons yang cepat ketika situasi di lapangan berubah. Jika terlambat mengantisipasi strategi lawan, pasangan Indonesia berisiko kehilangan poin secara beruntun. "Ketika lawan mengubah pola, kami juga harus cepat mengubah rencana. Jangan sudah hilang beberapa poin baru sadar," papar Rachel.
Perubahan Strategi Belum Berhasil
Memasuki game kedua, Rachel/Febi berusaha mengubah pendekatan permainan untuk meredam agresivitas Jolly/Pullela. Mereka mencoba memperlambat tempo dan memperpanjang reli agar bisa mendapatkan peluang untuk mengembangkan serangan.Namun, strategi tersebut belum mampu mengubah jalannya pertandingan. Pasangan India dinilai sudah siap menghadapi pola permainan baru yang diterapkan wakil Indonesia.
Febi mengungkapkan bahwa upaya untuk memaksakan reli panjang justru tidak memberikan hasil sesuai harapan. Lawan mampu membaca arah permainan mereka sehingga Rachel/Febi kesulitan mencari celah untuk merebut poin.
"Di game kedua kami coba memperlambat tempo, coba bermain rally-rally tapi lawan juga sudah siap. Semua bola kami sudah dibaca mereka," ucap Febi.
Kondisi tersebut membuat Rachel/Febi kembali kehilangan game kedua dengan skor 17-21. Hasil ini sekaligus memastikan langkah mereka terhenti di babak kedua Denmark Open 2026.