Jokowi Ingatkan Inklusif Penting di Era Digital
Presiden Joko Widodo dalam pertemuan dengan Asia-Pacific Economic Cooperation Business Advisory Council (ABAC). Foto: Biro Pers Istana.
Jakarta: Presiden Joko Widodo menegaskan pentingnya bersikap inklusi dalam era ekonomi digital. Hal itu dia ungkapkan dalam pertemuan dengan Asia-Pacific Economic Cooperation Business Advisory Council (ABAC).

"Di era digital ini, jangan sampai dilupakan aspek inklusifitas di mana manfaat pembangunan melibatkan dan dapat dinikmati semua orang. Dikhawatirkan bahwa mengabaikan inklusifitas dapat memperburuk kesenjangan. Dan kesenjangan akan menciptakan masalah sosial dan bahkan konflik," kata Jokowi, di APEC Haus, Port Moresby, Papua Nugini, Sabtu, 17 November 2018.

Menurut dia, pembangunan ekonomi yang inklusif dengan platform digital adalah prioritas pemerintah Indonesia sejak 2014. Pada 2017, Indonesia memiliki 132,7 juta pengguna internet dan 92 juta pengguna smart phone.


Pemerintah terus menyelesaikan pembangunan infrastruktur digital dengan penambahan serat optik Palapa Ring dan penataan spektrum frekuensi untuk menyediakan akses digital yang terjangkau.  Indonesia diperkirakan menjadi ekonomi digital terbesar Asia Tenggara pada 2020.  

Indonesia akan terus mengimplementasikan peta jalan kebijakan e-commerce untuk mendukung pengembangan e-commerce sebanyak 17 persen. Hal ini diharap mampu mencetak 1.000 technopreneurs pada 2020. 

Jokowi juga memberikan perhatian besar terhadap generasi muda dalam revolusi industri 4.0. Pendidikan vokasi, politeknik, dan balai latihan kerja terus dikembangkan.

Pemerintah, kata dia, mendukung pemanfaatan teknologi di semua sektor. Dia mencontohkan perkembangan Ruangguru di bidang pendidikan, atau GoJek di bidang transportasi. Semua ini dilakukan untuk mendorong ekonomi yang inklusif. 

Untuk memastikan pembangunan inklusif di era digital, Presiden mengingatkan ketimpangan digital harus diatasi. Dia pun mendorong penyusunan peta jalan pengembangan internet of things.

Baca: Sri Mulyani Siapkan Insentif untuk Industri Digital

Jokowi juga fokus pada penyediaan platform pemasaran digital bagi UMKM, seperti Tokopedia, Qlapa. Dia juga mendukung pemanfaatan tekonologi digital bagi daerah tertinggal melalui kerja sama dengan marketplace dalam mengembangkan platform e-commerce berbasis potensi daerah. Kurikulum sekolah juga diperbaiki agar siap menyambut era digital.

Di akhir dialog tersebut, Presiden Jokowi secara tegas mengingatkan ketegangan antar negara besar dalam perdagangan dunia hanya akan merugikan masyarakat. "Dan ini pula yang juga dapat mendorong konflik sosial," ujar dia.

Sementara itu pertemuan ABAC diikuti Presiden Jokowi bersama Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Vietnam Nguyn Xuân Phúc, dan Utusan Khusus Cina Taipei Morris Chang. Mereka membahas isu perdagangan, ekonomi global, dan digital ekonomi.

Pertemuan dihadiri pula oleh perwakilan ABAC dari keempat negara dan dimoderasi oleh Richard Cantor dari Amerika Serikat. Dari Indonesia, hadir Ketua ABAC Indonesia Anindya Bakrie.





(OGI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id