Istilah 'Ekonomi Kebodohan' Prabowo Dipertanyakan

Achmad Zulfikar Fazli 12 Oktober 2018 13:54 WIB
pilpres 2019
Istilah 'Ekonomi Kebodohan' Prabowo Dipertanyakan
Abdul Kadir Karding--Medcom.id/Faisal Abdalla.
Jakarta: Tim Kampanye Nasional Koalisi Indonesia Kerja (TKN-KIK) mempertanyakan pernyataan calon presiden 02 Prabowo Subianto soal ekonomi kebodohan. Pasalnya, ekonomi yang dibangun pemerintahan Joko Widodo untuk kepentingan rakyat.

"Jadi saya enggak tahu siapa yang disebut ekonomi kebodohan," ujar Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Abdul Kadir Karding, dalam konferensi pers di Posko Cemara, Jakarta Pusat, Jumat, 12 Oktober 2018.

Karding menjabarkan capaian pemerintahan Jokowi. Mulai dari pengambilalihan saham PT Freeport Indonesia sebesar 51 persen, mengambil alih Blok Rokan yang selama ini dikelola perusahaan asal Amerika Serikat, Chevron, hingga indeks layak investasi yang meningkat tajam.


Dia justru menyindir Prabowo yang terlibat dalam tradisi oligarki di era pemerintahan Soeharto. Saat itu, Prabowo merupakan menantu dari Soeharto.

"Kalau yang saya tahu, tradisi oligarki dibangun di zaman Pak Harto. Pak Harto menumpuk kekayaan dan kekuasaan pada saat itu. Dan di dalamnya kroni termasuk Pak Prabowo. Itu yang saya paham. Kita melakukan reformasi untuk mengubah itu," kata dia.

Baca: Gerindra tak Meniru Cara Trump, tapi Meminjam

Menurut Karding, ekonomi Indonesia saat ini sudah lebih maju. Ekonomi Indonesia dinilai bertahap sudah dalam progres yang bagus. "Parameter dengan angka-angka statistik yang ada, itu kita bangun," ucap dia.

Politikus PKB itu juga menepis tuduhan ekonomi Indonesia saat ini tidak memerhatikan rakyat. Pemerintah era Jokowi dianggap berpihak kepada rakyat. Misalnya melalui pembangunan jalan tol, pelabuhan, jalan-jalan di desa, dan airport.

Tak hanya itu, Jokowi juga telah memberikan jaminan sosial kepada rakyat melalui Kartu Indonesia sehat (KIS). Kemudian, menggelontorkan anggaran yang cukup besar buat dana desa.

"Apakah melakukan disvestasi terhadap beberapa sumber-sumber ekonomi kita yang besar dianggap tidak memerhatikan rakyat? Apakah membangun desa dengan anggaran  desa yang begitu besar tidak memerhatikan rakyat?" tutur dia.

Menurut dia, Prabowo justru yang belum terlihat kerjanya untuk kepentingan rakyat. Saat ini, kata dia, kubu Prabowo hanya melontarkan kritik tanpa kerja nyata kepada rakyat.

"Mohon maaf sekali lagi, tanpa mengurangi rasa hormat ke Pak Prabowo, kami belum pernah melihat prestasi Pak Prabowo gagasan Pak Prabowo, bahkan kerja-kerja Pak Prabowo terkait dengan memerhatikan rakyat," ketus dia.

Dia meminta Prabowo tak melupakan sejarah. Pasalnya, reformasi dijalankan untuk menyingkirkan praktik korupsi, kolusi dan nepotisme serta oligarki di era Soeharto dan kroninya.

"Siapa kroninya? Salah satunya adalah ya Pak Prabowo sebagai menantu. Dan saya kira secara tidak langsung pasti beliau mendapat keuntungan. Saya kira, dugaan saya, mendapatkan keuntungan sangat banyak," kata dia.

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto melontarkan istilah 'ekonomi kebodohan' saat berpidato pada Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin Pondok Gede, Jakarta Timur, Kamis, 11 Oktober 2018.

Prabowo menyebut sistem ekonomi Indonesia yang dijalani pemerintah saat ini lebih parah dari paham neoliberalisme Amerika Serikat. Sebagai amsal, Prabowo menyebut, angka kesenjangan sosial masyarakat Indonesia semakin tinggi.

"Ini lebih parah dari neolib. Harus ada istilah, ini menurut saya ekonomi kebodohan. The economics of stupidity," kata Prabowo.





(YDH)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id