Kawasan wisata Labuan Bajo. MI/Rommy Pujianto
Kawasan wisata Labuan Bajo. MI/Rommy Pujianto

Labuan Bajo Menggali Potensi Pariwisata Nan Khas

Nasional pariwisata daerah Labuan Bajo Kemenparekraf
Cindy • 19 November 2020 08:43
Jakarta: Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggali potensi lokal dan pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui program Aksi Selaras Sinergi (Aksilarasi). Program ini berusaha menciptakan pengalaman wisata yang khas demi menarik minat pelancong.
 
"Saat ini Aksilarasi berada di tahun pertama. Program ini merupakan salah satu langkah untuk mendukung Labuan Bajo sebagai destinasi pariwisata super prioritas," kata Direktur Industri Kreatif Musik, Seni Pertunjukan, dan Penerbitan Kemenparekraf, Mohammad Amin, lewat keterangan tertulis, Kamis, 19 November 2020.
 
Labuan Bajo telah ditetapkan sebagai empat besar destinasi super prioritas Indonesia. Wilayah ini memiliki situs warisan dunia Taman Nasional Komodo hingga bakal menjadi lokasi penyelenggaraan sejumlah agenda internasional, seperti G20 Summit dan ASEAN Summit pada 2023.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sehingga, kata Amin, diperlukan kekhasan dan identitas di Labuan Bajo yang tidak hanya mengandalkan keindahan alam semata. Kemenparekraf akan memberi pendampingan pembuatan produk kreatif agar masyarakat setempat mampu menciptakan komoditas unggulan. Baik berupa seni musik, pertunjukan, seni rupa, hingga penerbitan.
 
“Besar harapan kami kegiatan ini mampu mendukung terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif Labuan Bajo guna mempercepat pertumbuhan ekonomi dengan dukungan peran aktif warga sekaligus mendukung pengembangan destinasi pariwisata,” ucap Amin.
 
Baca: Pemerintah Siapkan Sertifikasi SDM Pariwisata Labuan Bajo
 
Aksilarasi dijalankan selama lima tahun dengan program tahunan yang telah disiapkan. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam, mengatakan bahwa Aksilarasi Labuan Bajo memasuki tahapan puncak tahun ini. Salah satunya, uji publik yang dilaksanakan pada 19 November 2020.
 
“Uji publik ini akan direkam dan ditayangkan secara daring,” ujar Neil.

16 Karya Tercipta

Sebanyak 16 karya telah dihasilkan pada 2020. Sebanyak 3 karya seni musik digubah Sompo, Flores Human Orchestra, dan Labuan Bajo World Band. Lalu, 8 seni pertunjukan diaransemen yang terdiri atas tiga tari tradisi, dua tarian pop tentang komodo, dan seni pertunjukan teater.
 
Program ini juga menghasilkan sejumlah naskah yang terdiri atas cerita rakyat, pertunjukan kolosal, seni rupa, dan empat karya penerbitan. Sebanyak empat penerbitan tersebut berupa tiga dummy buku seri mengenal Labuan Bajo dan satu peta jelajah Labuan Bajo.
 
Baca: Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo Dorong Digitalisasi Desa Wisata di NTT
 
Direktur Utama Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo-Flores, Shana Fatina, menyambut baik Aksilarasi Labuan Bajo. Dia ingin Labuan Bajo memiliki produk wisata nan khas dan mampu membangun kenangan wisatawan terhadap Labuan Bajo.
 
“Karena kita tidak bisa mengandalkan keindahan alam saja, karena di tempat lain juga ada, tetapi interaksi dengan masyarakat itu akan terus lekat,” ujar Shana.
 
(SUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif