Eks koruptor Wa Ode Nurhayati di Gedung KPK--Medcom.id/Juven
Eks koruptor Wa Ode Nurhayati di Gedung KPK--Medcom.id/Juven

Eks Koruptor Wa Ode Nurhayati Ngotot Nyaleg Lewat PAN

Nasional caleg
Juven Martua Sitompul • 13 Juli 2018 16:40
Jakarta: Mantan narapidana kasus suap, Wa Ode Nurhayati menegaskan bakal tetap mendaftar sebagai calon legislatif pada Pemilu 2019. Dia mengaku akan nyaleg melalui Partai Amanat Nasional (PAN).
 
Sikap Wa Ode Nurhayati ini jelas menentang Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 20 Tahun 2018 tentang pencalonan anggota legislatif, yang baru diundangkan Kementerian Hukum dan HAM.
 
"Soal nanti seperti apa, saya tunggu hasil JR (judicial review di Mahkamah Agung)," kata Nurhayati usai diperiksa sebagai saksi kasus korupsi KTP-el di Gedung KPK, Jakarta, Jumat, 13 Jumat 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: KPU Melunak soal Eks Koruptor Nyaleg
 
Nurhayati diketahui sebagai salah satu mantan koruptor yang menggugat PKPU Nomor 20 Tahun 2018 tentang pencalonan anggota legislatif, yang berisi larangan mantan narapidana kasus korupsi mendaftar sebagai caleg ke Mahkamah Agung.
 
Politikus PAN itu menyebut PKPU telah menabrak tiga Undang-undang sekaligus. Apalagi, kata Nurhayati dirinya telah memenuhi hukuman sesuai Peratutan Pemerintah (PP) Nomor 99 Tahun 2012 tentang Syarat dan Tata Cara Pelaksanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan.
 
"Jadi saya minta kearifan publik lah sepanjang itu sesuai undang-undang enggak apa-apa tapi ini kan yang ditabrak ada tiga, UU Nomor 7, UU HAM dan Tipikor sendiri," ujar dia.
 
PKPU resmi diundangkan per 2 Juli 2018. PKPU mengatur Pencalonan Anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota dalam Pemilu 2019.
 
Ketentuan larangan mantan napi kasus korupsi mencalonkan diri menjadi anggota legislatif otomatis diterapkan. Pelarangan tertera pada Pasal 4 ayat 3 yang berbunyi, Dalam seleksi bakal calon secara demokratis dan terbuka sebagimana dimaksud pada ayat 2 tidak menyertakan mantan terpidana narkoba, kejahatan seksual terhadap anak dan korupsi.
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi