Direktur Said Aqil Sirodj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat (kanan). Foto: MI/Susanto
Direktur Said Aqil Sirodj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat (kanan). Foto: MI/Susanto

BUMN Diminta Membentengi Diri dari Radikalisme

Nasional bumn radikalisme
Yogi Bayu Aji • 21 November 2019 14:48
Jakarta: Badan usaha milik negara (BUMN) diminta membentengi diri dari radikalisme. Perusahaan pelat merah tak boleh menjadi pintu masuk hingga memfasilitasi penyebaran pemikiran intoleransi.
 
"Unit kerohanian dan keagamaan di lingkungan BUMN perlu dicermati warna dan orientasinya," kata Direktur Said Aqil Sirodj (SAS) Institute, Imdadun Rahmat, dalam keterangan tertulis, Kamis, 21 November 2019.
 
Menurut dia, BUMN harus aktif memperhatikan apakah ada kampanye intoleransi dan radikalisme yang digaungkan di tempatnya. Pengurus sarana ibadah di BUMN juga tak boleh mendatangkan narasumber atau mengulas bacaan yang mengarah ke ekstremisme.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Penguasaan pengetahuan dan kecermatan dalam pengamatan sangat diperlukan karena intoleransi, ekstremisme dan radikalisme seringkali disebarkan secara sangat tersamar," jelas dia.
 
Dia menjelaskan penyebaran radikalisme kerap kali dibungkus dengan dalil agama yang dimanipulasi sedemikian rupa. Alhasil pemikiran itu dianggap seolah-olah ajaran agama itu sendiri.
 
Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) periode 2016-2017 itu menegaskan BUMN harus mereorientasi kegiatan-kegiatan keagamaan. Dengan begitu, pemikiran yang tertanam di pegawai BUMN tidak bertabrakan dengan visi kebangsaan.
 
Imdadun mencontohkan BUMN perlu secara konkret membangun kerja sama dengan organisasi masyarakat (ormas) seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Pihak yang berkompeten harus diajak turun tangan membina pegawai BUMN.
 
"Pesantren, perguruan tinggi agama, lembaga riset, ormas pendiri bangsa seperti NU dan Muhammadiyah bisa dilibatkan baik dalam memilih bahan ajar, metode kajian, hingga suplai pengajar, pendidik, dai, dan ahli agama,” ujar Imdadun.
 
BUMN, jelas dia, juga harus dijaga betul agar tak menjadi sumber pendanaan bagi berbagai kelompok dan organisasi yang cenderung pro intoleransi dan radikalisme. Mereka tak boleh menjadi pendukung gerakan radikalisme.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif