Jurnalis senior Metro TV Don Bosco Selamun. (Foto: Metro TV)
Jurnalis senior Metro TV Don Bosco Selamun. (Foto: Metro TV)

Retorika Politik Tempe Setipis ATM dan Indonesia Punah

Nasional pilpres 2019
03 Januari 2019 13:45
Jakarta: Mirip fenomena hoaks, retorika politik yang mengusik akal sehat publik dan terkesan merendahkan kecerdasan masyarakat turut meramaikan 2018. Retorika dilemparkan begitu saja tanpa data dan dukungan fakta.
 
"Terdengar enak tapi kebenarannya jauh panggang dari api," demikian disampaikan Jurnalis Senior Metro TV Don Bosco Selamun dalam Catatan Akhir Tahun 2018, Selasa, 2 Januari 2019.
 
Beberapa retorika yang cukup menggemparkan Indonesia salah satunya dilontarkan oleh calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno. Menyebut nilai Rp100 ribu hanya sebanding dengan segenggam cabai dan bawang bahkan melabeli menu nasi ayam di Indonesia lebih mahal ketimbang di Singapura hingga tempe setipis ATM.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pendamping Sandiaga Uno, Prabowo Subianto, menyatakan retorika yang tak kalah bombastis. Berharap mendapatkan limpahan simpati, Prabowo menyebut Indonesia bubar pada 2030 sampai dengan kepunahan Nusantara jika dia tak terpilih menjadi Presiden RI periode 2019-2024.
 
Belakangan retorika seperti ini menuai kecaman banyak pihak karena cenderung menakuti dan tidak berbasis fakta. Tak ayal Presiden Joko Widodo menyebutnya sebagai 'politik genderuwo' atau politik yang bertujuan untuk menakut-nakuti.
 
Apa yang dinarasikan oleh Prabowo maupun Sandiaga dinilai berbahaya karena menempatkan diri sebagai satu-satunya penyelamat dan menuding kubu lawan sebagai biang masalah. Bukan tidak mungkin retorika semacam ini justru memperuncing konflik antarpendukung. Kompetisi politik yang seharusnya beradab dapat dengan cepat berubah menjadi beringas.
 
Retorika kubu oposisi mengingatkan siapa pun pada apa yang dilakukan oleh Donald Trump pada pemilu presiden Amerika Serikat beberapa tahun lalu, Presiden Filipina Rodrigo Duterte, atau Presiden Rusia Vladimir Putin. Model kampanye seperti ini dikenal dengan firehose of falsehood untuk membuat rakyat gamang.
 
Ketika publik tak lagi sepakat membedakan fakta dan hoaks kesadaran pun termanipulasi dengan mudah. Tatkala kebenaran dikaburkan publik pun hanya percaya pada realitas sudut pandang masing-masing dan inilah yang disebut ahi sebagai era post-truth atau era ketika kebenaran ilmiah dikalahkan oleh keyakinan individu.
 
Alasan lain mengapa retorika lebih disukai adalah berlimpahnya informasi sehingga banyak orang malas mencari kebenaran. Kemudian, terjadi diskriminasi informasi dimana kebenaran disembunyikan segelintir elite demi kepentingan mereka
 
"Retorika harus dibangun di atas data dan fakta yang valid agar kongruen dengan cara berpikir yang waras. Saatnya anda menjadi pemilih yang cerdas," pungkas dia.
 

 

(MEL)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif