Ahli waris memegang plakat gelar pahlawan nasional saat penganugerahan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 8 November 2019. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Ahli waris memegang plakat gelar pahlawan nasional saat penganugerahan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 8 November 2019. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Keluarga Senang Prof Sardjito Jadi Pahlawan Nasional

Nasional Pahlawan Nasional
Damar Iradat • 08 November 2019 18:11
Jakarta: Keluarga mengapresiasi pemerintah atas pemberian gelar pahlawan kepada Profesor Mohammad Sardjito. Pasalnya, keluarga melihat Sardjoto telah berjuang untuk kepentingan masyarakat di bidang kesehatan.
 
"Beliau memiliki moto dengan memberi, kami menjadi kaya. Maksudnya kita jangan segan-segan memberi, karena itu akan membuat kita lebih kaya lagi," kata salah satu cucu Sardjito, Dyani Poedjioeto, di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 8 November 2019.
 
Sesama hidupnya, Sardjito dikenal sebagai pejuang di bidang kesehatan dan dunia pendidikan kedokteran. Perjuangannya cukup berat mengingat ketika masa revolusi Indonesia, tenaga medis masih terbatas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sardjito bersama Ki Hajar Dewantara dan Prof Notonagoro mendirikan Perguruan Tinggi Kedokteran. Pada 1943, Sardjito menjadi ketua Izi Hakokai (Himpunan Pengabdi Masyarakat) Semarang, Jawa Tengah. Dua tahun kemudian, dia ditunjuk menjadi ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Bandung, Jawa Barat.
 
Saat menjabat ketua PMI Bandung, Sardjito mengambil alih Institut Pasteur Bandung atas perintah Menteri Kesehatan saat itu Dr Boentaran. Ia kemudian memindahkannya ke Klaten, Jawa Tengah, karena PMI mendapat serangan dari tentara Inggris.
 
Sardjito lalu mendirikan rumah sakit sederhana di rumahnya Desa Sedang Jimbung, Klaten. Ia juga menyediakan vaksin dan obat untuk mendukung kekuatan angkatan perang maupun rakyat pada 1946.
 
Pria kelahiran Magetan, 13 Agustus 1888, itu kemudian memindahkan fakultas maupun rumah sakit dari Klaten dan Solo ke Yogyakarta. Keterbatasan fasilitas membuat Sardjito menyulap kandang kuda Keraton Yogyakarta menjadi rumah sakit. Kamar-kamar abdi dalem Keraton pun dimanfaatkan menjadi laboratorium dan pendopo Kadipaten Mangkubumen menjadi ruang kuliah.
 
Tidak hanya itu, Sardjito juga terlibat dalam pendirian dan pengembangan beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kampus itu di antaranya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Jenderal Sudirman, dan Universitas Islam Indonesia.
 
Ia sempat menjabat sebagai rektor pertama UGM pada Desember 1949-1961. Sardjito mengembuskan napas terakhirnya pada 6 Mei 1970 di Yogyakarta.
 
Sardjito satu dari enam tokoh yang mendapatkan gelar pahlawan nasional 2019. Penghargaan itu disampaikan Presiden Joko Widodo di Istana Negara berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 120/TK/tahun 2019 tentang Penganugerahaan Gelar Pahlawan Nasional yang ditandatangani pada Kamis, 7 November 2019.
 
Selain Sardjito, gelar pahlawan nasional diberikan kepada tiga tokoh Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), yakni: Abdul Kahar Mudzakir, Alexander Andries Maramies, dan KH. Masjkur. Gelar pahlawan nasional juga diberikan kepada Ruhana Kuddus dan Sultan Himayatuddin.
 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif