PDIP Minta Rekaman Rini dan Sofyan Basir Ditelusuri

Intan Yunelia 29 April 2018 12:49 WIB
plnkementerian bumn
PDIP Minta Rekaman Rini dan Sofyan Basir Ditelusuri
Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto Medcom.id Adin
Jakarta: Kasus rekaman percakapan antara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno dan Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) Sofyan Basir diserahkan sepenuhnya kepada penegak hukum. PDI Perjuangan meminta aparat menelusuri kasus ini.

"Ya kita negara hukum. Semua pihak yang merasa dirugikan, proses hukum merupakan langkah hak yang berkeadilan," ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Season City, Tambora, Jakarta Barat, Minggu, 29 April 2018.

Hasto mengatakan Presiden Joko Widodo merupakan sosok yang bersih dan pekerja keras. Ia mengingatkan para menteri Kabinet Kerja fokus bekerja dan jangan membawa kepentingan pribadi ke dalam pekerjaan. 


"Ketika ada yang melibatkan keluarga saya menjadi saksi ini pelanggaran dari perintah Pak Jokowi,” kata Hasto.

Ia menekankan semua menteri harus mencamkan instruksi presiden. Jokowi, kata dia, ingin jajaran menterinya bekerja keras dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan tidak boleh ada campur tangan keluarga.

"Ketika keluaga campur tangan dalam urusan negara itu tidak bisa dibenarkan,” ucap Hasto.



Sebelumnya, beredar rekaman pembicaraan yang diduga melibatkan Rini  dan Sofyan. Rekaman itu diunggah pertama oleh akun @walikota_parung yang berisi rekaman percakapan dengan cover tulisan Rini dan Sofyan. Dalam rekaman itu, terdengar pembahasan mengenai bagi-bagi fee.

Berikut petikan rekaman pembicaraan tersebut:

SB: Saya juga kaget kan Bu, saya mau cerita ke Ibu, beliau kan panggil saya, pagi kemarin kan saya baru pulang.... Telat Bu. Kemarin diskusi masalah FSRU.

RS: Yang penting ginilah Bapak, udahlah, kan yang harus ambil kan dua, Pertamina sama PLN.

SB: Betul

RS: Ya, dua-duanya punya saham lah Pak, bilang gitu.

SB: Iya dia mau kasih kecil, saya bertahan Bu. Kan beliau ngotot. Kan, kamu gimana sih, Sof? Loh kan Pak kalau enggak ada PLN kan Bapak enggak ada juga tuh buat bisnis.

PLN. Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Ketemu Pak Ari, saya bilang Pak Ari mohon maaf masalah share ini kita duduk lagi lah, Pak Ari.

RS: Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama, sama Pak Sofyan.

Jadi masalah-masalah off-take, kalau enggak dapat off-take dari kalian kan mereka juga tidak dapat pendanaan gitu loh. Itu aja.

SB: Ya enggak apa juga Bu, cuma 15 persen berdua. Saya bilang, ya enggak nett lah pak, saya bilang, tolong lah jangan segitulah Pak, kan malu saya sebagai Dirut PLN masa dapat 7,5 persen. Saya bilang gitu.

RS: Bener, bener, bener, bener.

SB: Saya bilang begitu, kamu jangan dagang di situ, kamu dagang listrik. Iya Pak, tapi nanti kan orang bertanya sama saya. Jadi mohon maaf.

RS: Ya gapapa bener.

SB: ... ngomong ke Ibu tolong diusahakan.

RS: Ya, enggak apa. Apa pun biar bagaimana BUMN ini kan tetap kita jaga, kan akhirnya itu komitmennya, komitmen dari BUMN untuk mereka itu bisa IRR masuk itu tidak terlepas dari kita juga karena yang utama yang beli kan adalah PLN. Sama, tapi terutama PLN. Pertamina juga dong.

SB: Bukan Bu, Pertamina supply Bu. Iya, oh enggak beli juga Bu, beli.

RS: Karena dia kan ada customer juga.

SB: Oh iya ya.

RS: Dia beli juga.

RS: Karena dia ada sesuatu juga yang dimanfaatin untuk terus dia ke mana-mana. Makannya ini kompetisi sama PGN sebetulnya. Ke depannya ini mau saya beresin gitu loh. Apa namanya, kalau saya bilang, ke depannya PLN lah.

SB: Iya Bu, Saya gapapa ngotot gitu kan ya?

RS: Gapapa gapapa gapapa. Ya kan sebagai direksi harus begitu dong.

SB: Saya diminta ketemu Pak Ari lagi. Minggu ini atau minggu depan saya mau ketemu Pak Ari, saya mau terang-terangan ngomong sama Pak Ari. Pak Ari tolong lah malu saya kalau 7,5 persen. Ya kan Bu ya, kan cuma maksud saya gini Bu.

RS: Kakakku lagi gak mau ngomong sama aku.

SB: Saya tahu saya tahu karena beliau cerita.

RS&SB: (tertawa)

RS: Dia bilang kita harus mainkan, loh gimana sih .... Saya bilang gitu kan. Pokoknya begini lah menurut saya, saya bilang karena PLN sama Pertamina ini kan off take, ya enggak mungkin dong saya bilang. Terus menurut saya, banyak yang nerusin. Cuma saya ngomong sama kakak saya yang satunya, biasanya kalau dia sudah enggak mau ngomong, saya ngomong sama yang satunya supaya nyambung ke sana, gitu kan. Saya bilang gini aja deh, mereka itu the biggest shareholders tapi bukan menyoroti shareholders.

RS: Ya kan, ... Service kurangin lah sedikit. Aku ngomong gitu. Aku ngomongnya gitu aja kemarin. ... Satunya enggak tau nyambungnya ke siapa.

SB: Iya

SB: Saya bilang sama Pak JK kemarin. Bapak saya bilang mohon maaf, Bapak kan bilang 35 persen karena dia yang cari uang. Sudah saya yang cari uang kalau cuma US$600 juta.

RS: Bener bener

SB: Saya yang cari uang Pak. Kalau dia 35 saya 7,5. Udah lah Pak saya bilang. Saya cari uang sendiri. Yang kedua saya mau open book dalam investasinya gitu. Maksud saya kan tidak ada open juga Bu. Gitu Bu.

RS: Ada benernya sih. He eh. Pak Sofyan bener. Bener. Bener. Setuju.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id