Hoaks Hanya Ciptakan Konflik
Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Foto: Antara/Yudhi Mahatma.
Jakarta: Berita hoaks yang bertebaran lewat media sosial hanya akan menyebabkan konflik. Hoaks merupakan senjata untuk mengoyak kerukunan antar masyarakat dengan segala perbedaan latar belakang yang ada baik itu agama, suku, dan ras. Hoaks dapat mengancam nilai-nilai kebinekaan.

Pernyataan tersebut diungkapkan Anggota MPR Fraksi Partai NasDem Taufiqulhadi saat menjadi salah satu narasumber dalam semninar nasional yang diadakan oleh Fraksi MPR dan Dewan Pakar Partai NasDem dengan mengangkat tema 'Hoaks Mengancam Kaum Milenial'.

"Perlu diingat bahwa fenomena hoaks bukan sesuatu yang baru, melainkan penghalusan istilah yang sebenarnya bertujuan untuk memecah belah bangsa dan menguasai suatu negara," tutur Taufiquhadi di Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2018.


Berdasarkan fakta data dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) ada sekitar 800 ribu situs hoaks yang berkembang di Indonesia. Sepanjang 2018 sedikitnya terdapat 53 kasus hoaks dan 324 kasus ujaran kebencian. Polri mencatat terdapat rata-rata 3.500 konten hoaks yang diproduksi dalam sehari.

Adapun frekuensi pengguna internet di Indonesia lebih banyak berada di rentang usia hingga 18 tahun dengan persentase 75,50 persen. Rentang usia 19 hingga 34 tahun berada di posisi kedua dengan persentase 74,23 persen. Artinya, generasi milenial adalah generasi yang mendominasi pemanfaatan fasilitas internet di Indonesia dan rentan menjadi korban penyebaran hoaks.

"Tentu berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat konten hoaks mempunyai daya sensitivitas sosial dan politik yang tinggi," tuturnya.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Presideum Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Anita Abdurahman Wahid menuturkan hoaks yang disampaikan dengan tulisan narasi merupakan salah satu hoaks yang paling efektif mempengaruhi masyarkat. Kabar-kabar narasi tersebut disebarkan lewat sosial media.

"Narasi kabar hoaks tersebut menjadi 'lunak' apabila penyebarannya tidak masif di sosial media. Penerima hoaks baiknya dapat mencerna informasi yang diterima dan tidak mudah menyebarkan kembali di media sosial," ujarnya.

Anita melanjutkan hoaks sebetulnya dapat diidentifikasi secara sederhana. Berita hoaks seringkali menggunakan judul senasional yang cenderung provokatif. Isinya pun biasa diambil dari berita resmi yang datanya diubah untuk menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat berita palsu.

"Perhatikan berita berasal dari mana sumbernya. Berita hoaks umumnya menyajikan sumber yang tidak berimbang," kata dia.



(MBM)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id