Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)--Medcom.id/Desi Angriani.
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK)--Medcom.id/Desi Angriani.

Perbedaan Soeharto, SBY dan Jokowi di Mata JK

Nasional jusuf kalla
Achmad Zulfikar Fazli • 05 Maret 2019 14:22
Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mendapat pertanyaan sulit saat memberikan pidato di Kantor Lembaga Administrasi Negara (LAN), Jakarta. Dia diminta membeberkan perbedaan pemerintahan era Presiden Soeharto, Susilo Bambang Yudhyono (SBY) dan Joko Widodo.
 
Dia menyampaikan pemimpin itu sesuai zaman. Soeharto, kata dia, memimpin Indonesia selama 33 tahun karena mulanya sangat demokratis.
 
Saat itu, sudah ada partai politik dan pemilu juga berjalan dengan baik. Begitu ada kepentingan yang berbeda dengan keinginan rakyat semua berubah. Monopolistik dan nepotisme bermunculan. "Ada arena proyek-proyek maka terjadi krisis," ujar JK, Selasa, 5 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dalam situasi itu, JK memandang Soeharto sebagai pemimpin yang otoriter. Pemimpin yang otoriter itu bukan hanya Soeharto, di beberapa negara ASEAN juga ada. Misalnya, Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad, dan PM Singapura, Lee Kuan Yew.
 
Bedanya, kata dia, para pemimpin itu tak melakukan nepotisme. Sekalipun, sama-sama berkuasa dalam kurun waktu yang panjang. "Tidak sesuai dengan prinsip demokrasi yang terbuka," ucap dia.
 
Baca: Soeharto-Jokowi Bagai Membandingkan Duren dan Jeruk
 
Di sisi lain, dia menilai SBY juga merupakan sosok yang demokratis. Banyak keputusan penting yang diambil SBY. Salah satunya ialah menghilangkan dwifungsi TNI. "Jadi segala proses transisional, demokrasi yang sangat terbuka," ujar dia.
 
Sementara itu, Jokowi dinilai sangat peduli terhadap rakyat. Jokowi juga pemimpin yang demokratis dan tak otoriter. Sikap pemimpin seperti itu yang saat ini memang dibutuhkan Indonesia. "Pak Jokowi ini pas. Karena dia apa saja masalah di kabinet kita rapatkan," papar dia.
 
Selama setahun, kata dia, Jokowi telah menggelar rapat lebih dari 200 kali. Jokowi selalu meminta masukan dari jajaran kementerian dalam mengambil keputusan.
 
Jokowi juga tidak nepotis. Hal itu terlihat dari semua bisnis yang dijalankan anaknya tak ada campur tangan pemerintah.
 
Anak pertama Jokowi, Gibran Rakabuming Raka bisnis katering dan martabak, sedangkan anak terakhirnya, Kaesang Pangarep bisnis pisang goreng. "Jadi enggak ada hubungannya dengan pemerintah," ucap dia.
 

(YDH)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif