Basuki Tjahaja Purnama alias BTP menunjukkan kartu keanggotaan PDIP seusai berkunjung ke kantor DPD PDIP Provinsi Bali, Denpasar, Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo
Basuki Tjahaja Purnama alias BTP menunjukkan kartu keanggotaan PDIP seusai berkunjung ke kantor DPD PDIP Provinsi Bali, Denpasar, Bali. Foto: Antara/Nyoman Hendra Wibowo

Efek Ahok dan Jokowi di PDIP

Nasional pemilu serentak 2019
23 Februari 2019 12:17
Jakarta: Keberadaan Presiden Joko Widodo dinilai mendongkrak elektabilitas PDI Perjuangan sejak pertama kali kemunculannya sebagai Wali Kota Solo. Namun, masuknya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menjadi lampu kuning bagi partai besutan Megawati Soekarnoputri itu.
 
Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, elektabilitas PDIP bergantung kepada Presiden Jokowi. Jika Jokowi sukses, citra PDIP makin bagus dan dianggap sukses. Sehingga secara tak langsung berdampak pada kenaikan elektabilitas partai berlambang banteng tersebut.
 
"Suksesnya dan bagusnya citra Jokowi maka menjadi sukses PDIP. Ini efek positif ekor jas `cotail effect," kata Pangi, Sabtu, 23 Februari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun, hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menunjukkan elektabilitas PDI Perjunagn turun mesti menjadi perhatian.
 
Menurutnya, masuknya Ahok bisa memberikan sentimen negatif karena dicap sebagai penista agama. "Isu yang dimainkan jelas enggak menguntungkan PDIP. Misalnya dihadap-hadapkan atau dibenturkan antara kelompok nasionalis dengan Islam," kata Pangi.
 
Baca: Ahok Resmi Gabung PDIP
 
Pangi menilai elektabilitas PDIP yang turun karena ada pengaruh dari pemilih sosiologis. Sebabnya, pemilih tersebut masih menyimpan luka terkait sikap Ahok dan perlu waktu untuk mengobatinya.
 
"PDIP harus segera recovery, ditambah lagi bergabungnya Ahok ke PDIP yang menjadi sintemen negatif dan mempertegas bahwa PDIP mendukung penista agama," terang Pangi.
 
Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center and Research Consulting ini, PDIP masih gagal memperluas ceruk pasar pemilih dan hanya mempertegas serta memperkuat basis ceruk segmen pemilih nasionalis.
 
"PDIP masih gagal dalam ekspansi penetrasi pada zonasi wilayah kantong pemilih muslim. PDIP harus melakukan recovery dan memperluas kantong basis suara dan jangan hanya terjebak pada basis pemilih nasionalis," katanya.
 
Seperti diketahui, LSI menyebut elektabilitas PDIP pada Desember 2018 sebesar 27,7 persen. Sementara pada Januari 2019 turun menjadi 23,7 persen.
 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi