ISNU: Mahasiswa Perlu Diajarkan Bela Negara dan Toleransi

Nur Azizah 26 November 2018 05:01 WIB
pancasila
ISNU: Mahasiswa Perlu Diajarkan Bela Negara dan Toleransi
Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa. MI/M Irfan.
Jakarta: Sebanyak 39 persen mahasiswa di 15 Provinsi terpapar paham radikalisme. Ketua Umum PP Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa mengatakan perlu tindakan serius agar jumlah tersebut tidak bertambah.

Dia meminta Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) RI dan Kementerian Agama bekerja sama merumuskan diskursus bela negara. Menurutnya, pemahaman bela negara dan toleransi harus diajarkan agar mahasiswa menerima negara berlandaskan Pancasila.

“Menristekdikti bisa bimbing mahasiswa ke diskursus ilmu bela negara dan tolerasni berdasarkan pemikiran yang tepat pada Pancasila,” kata Ali di Hotel Sultan, Jakarta Selatan, Minggu 25 November 2018.


Selain itu, mahasiswa perlu diajarkan bahwa mencintai negara adalah wujud keimanan. Ini seperti yang diajarkan banyak ulama terdahulu. 

"Islam dan negara itu tidak dikotomikan. Dalam NU negara Pancasila itu refleksi dari negara beragama. Orang yang mecintai tanah air itu wujud mencintai keimanan," ungkapnya.

Di sisi lain, Kemenristekdikti dan Kemenag diminta meningkatkan kualitas para pengajar dan penceramah. Pengajar harus dibekali ilmu agama yang mendalam, bukan ala kadarnya.

“Bukan saja yang bicara ilmu syariat, tapi yang bicara akidah, ubudiyah, fiqih, dan tasawuf. Ilmu Islam itu tidak hanya hitam putih, tapi menyeluruh,” ungkap dia.

Ali juga meminta masyarakat untuk pintar memilih pemateri atau penceramah. Ia yakin masih ada penceramah yang bisa menengkan jiwa dan memberikan ilmu yang lebih dalam.

Hingga kini, setidaknya ada tujuh perguruan tinggi negeri (PTN) yang terpapar paham tersebut. Juru Bicara Badan Intelijen Nasional (BIN) Wawan Hari Purwanto mengatakan 39 persen mahasiswa yang berada di 15 provinsi tertarik dengan paham radikal. Informasi ini pun telah disampaikan ke pimpinan universitas yang bersangkutan.

Wawan mengatakan jumlah tersebut memiliki kadar yang berbeda. Ada yang terkena paparan rendah, sedang, hingga tinggi. Namun yang pasti mereka merupakan simpatisan paham radikal.



(DRI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id