Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. Foto: Antara/Fikri Yusuf
Wakil Ketua Umum Gerindra, Fadli Zon. Foto: Antara/Fikri Yusuf

Jalan Oposan Fadli Zon

Nasional media sosial Virus Korona fadli zon YouTuber Rangkuman Nasional
M Sholahadhin Azhar • 09 Juni 2020 07:28
Jakarta: Fadli Zon seolah menempuh jalan oposan sejak Presiden Joko Widodo dilantik pada 2014. Tak ada istilah bagi Fadli untuk manut dan tunduk langsung kepada kebijakan pemerintah.
 
Fadli dipercaya Partai Gerindra menjabat wakil ketua DPR saat itu. Jabatan tersebut dimanfaatkan sebaik mungkin menjadi oposan.
 
Wakil Ketua Umum Gerindra ini telanjur setia mengkritisi kekurangan setiap kebijakan Jokowi. Pria kelahiran Jakarta, 1 Juni 1971, itu bahkan harus menghadapi 'mimpi buruk' saat periode kedua Jokowi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasalnya, Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, dipercaya menjadi Menteri Pertahanan pada 23 Oktober 2019. Citra Gerindra sebagai oposan di periode pertama kepemimpinan Jokowi perlahan terkikis.
 
Pengikisan citra itu semakin terlihat kala Fadli tak lagi punya kursi di pimpinan DPR. Gerindra juga mengeremkritik Fadli Zon dengan tak menunjuknya sebagai juru bicara. Namun, dia tak mempan dibungkam.
 
"Bertahun-tahun jadi juru bicara Pak Prabowo, lalu juru bicara partai. Sekarang saya juru bicara rakyat," kata Fadli, 6 Desember 2019.
 
1. Kritik kolega
 
Mengklaim dirinya jubir rakyat, Fadli bahkan tak segan menyinggung koleganya, Edhy Prabowo. Menteri Kelautan dan Perikanan itu dikoreksi ihwal rencana membuka ekspor benih lobster pada akhir 2019.
 
Fadli meminta Edhy tak melakukan hal tersebut. Sesuai saran mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.
 
"Saya sarankan pada kolega saya Menteri Edhy Prabowo untuk mempertimbangkan masukan dan kritik yang baik soal benih lobster," cuit Fadli lewat akun Twitter @fadlizon.
 
Menurut dia, Edhy tak boleh menaruh prasangka atas kritik Susi. Sebab, Susi telah terbukti bekerja maksimal sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
 
"Jangan apriori walau datang dari mana pun, apalagi dari pendahulu @susipudjiastuti yang punya nasionalisme tinggi. Saya yakin Menteri Edhy Prabowo akan bijak bersikap," sebut Fadli.
 
2. Tetap punya tempat di layar kaca
 
Pamor Fadli ketika Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 masih membekas hingga saat ini. Pria kelahiran Jakarta, 1 Juni 1971, ini kerap diundang stasiun televisi kala itu untuk berdebat terkait Jokowi dan Prabowo.
 
Meski tak lagi bicara terkait hal itu, Fadli tetap memiliki tempat di layar kaca masyarakat. Terhitung beberapa kali dia diundang ke stasiun televisi swasta mengikuti diskusi yang dibawakan Najwa Shihab.
 
Beberapa topik ikut dibahas bersama Fadli dalam diskusi tersebut. Antara lain merespons pemulangan kembali kombatan ISIS dari Suriah, polemik batas wilayah perairan di Natuna.
 
Teranyar, Fadli diajak membahas langkah pemerintah menangani virus korona (covid-19) pada Maret 2020. Dia mengkritisi langkah pemerintah dalam menangani virus tersebut.
 
"Banyak langkah yang terbuang karena kita sibuk menegasikan bahwa Indonesia ini akan terserang korona," kata Fadli dalam tayangan tertanggal 12 Maret 2020.
 
3. Andalkan media sosial
 
Fadli memang punya tempat di layar kaca. Namun, tempat itu tak seluas ketika Pilpres 2019. Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR itu terlihat lebih nyaman memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan kritik.
 
Di akun Twitter dengan 1,4 juta pengikut, Fadli gemar menyebar tautan link media online. Isinya mayoritas berita yang mengkritisi kebijakan pemerintah.
 
Tak terhitung berapa jumlah cuitan yang dibuat Fadli. Sebab, tak hanya share berita, dia juga membeberkan kajian mendalam sejumlah isu.
 
Teranyar, dia berkabar soal prioritas sektor pangan di tengah pandemi korona. Fadli meminta pemerintah Indonesia memperhatikan ancaman krisis pangan akibat pandemi.
 
Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu memandang perlunya bantuan langsung pemerintah terhadap petani. Sebab, ketersediaan pangan selama ini disokong 26 juta rumah tangga petani (RTP).
 
"Sehingga, mereka sangat pantas diprioritaskan dalam pemberian bantuan dan stimulus ekonomi, bukannya industri start upatau sektor tersier lainnya," cuit Fadli.
 
Selain Twitter, Fadli juga kerap membagikan momen di Instagram pada 287 ribu pengikutnya. Beberapa foto kegiatan sehari-hari diunggah di media sosial tersebut.
 
Fadli kerap bernostalgia di Instagram. Misalnya, unggahan pada 8 Juni 2020. Dia mengunggah foto bersama Presiden ke-2 RI, Soeharto.
 
"Hari ini, 8 Juni adalah hari kelahiran Presiden Soeharto, Bapak Pembangunan Indonesia. Al Fatihah. Foto diambil oleh mantan Mensesneg Moerdiono usai ngobrol hampir 2 jam tahun 2007. @HMSoeharto1921 @tututsoeharto," kata Fadli.
 
Tak hanya nostalgia, Fadli juga gemar memamerkan koleksi di perpustakaan pribadinya. Sejumlah tokoh pernah berkunjung ke sana. Mulai Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan eks Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
 
4. Aktif berkolaborasi dengan Youtuber
 
Fadli Zon memperluas jangkauan kritiknya. Bahkan, melalui medium kekinian, yakni Youtube. Bukan sebagai youtuber, namun kolaborator.
 
Pakar hukum Refly Harun pernah mengundang Fadli mengisi konten Youtube bertajuk 'Dialog Cerdas Cara Refly (Dicecar) pada awal Mei 2020. Beberapa pertanyaan dilontarkan, termasuk sikap Fadli yang tak pernah memuji pemerintahan.
 
"Saya bingung mau memuji yang mana," kata Fadli menjawab pertanyaan Refly.
 
Bagi Fadli, keputusan paling terpuji dari Jokowi adalah menempatkan Prabowo Subianto sebagai Menteri Pertahanan. "Itu ada, jejak digitalnya ada," ujar Fadli sambil tertawa.
 
Fadli juga mengisi konten podcast yang dikemas Deddy Corbuzier dalam video Youtube. Isu terkini menyangkut penanganan korona dibahas dalam channel Deddy. Misalnya, terkait dana untuk membantu mereka yang terdampak korona. Kepada pekerja harian lepas dan pekerja lain yang tak mendapat gaji bulanan.
 
Fadli mempertanyakan bantuan yang kurang optimal. Dia membandingkan bantuan itu dengan bantuan sosial saat kampanye yang bisa mencapai triliunan rupiah.
 
Dalam wawancara tersebut, beberapa poin menjadi terang. Termasuk sikap Fadli yang tak lelah mengkritik.
 
"Orang mengkritik dan berdebat, memperdebatkan sebuah policy itu bagus karena ini merupakan hajat hidup orang banyak," kata Fadli dalam podcast Deddy Corbuzier, 5 April 2020.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif