Menteri Agama Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. Foto: Antara/Puspa Perwitasari
Menteri Agama Jenderal TNI (Purn) Fachrul Razi di Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Selasa, 22 Oktober 2019. Foto: Antara/Puspa Perwitasari

HMI: Menag Harus Rangkul Milenial

Nasional radikalisme
Ilham Pratama Putra • 29 Oktober 2019 11:34
Jakarta: Direktur Lembaga Ekonomi Mahasiswa Islam (LEMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Arven Marta meminta Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi dekat dengan kaum milenial. Pendekatan diperlukan untuk menjauhkan anak muda dari paham radikal.
 
Arven menyebut pendekatan persuasif harus menjadi program Kementerian Agama dalam lima tahun ini. Dia tak ingin pemikiran keras terus menyebar luas.
 
"Karena bibit radikal ini kan pemahaman. Jadi harus diberikan edukasi," kata Arven kepada Medcom.id, Jakarta, Selasa, 29 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut dia, komunikasi dengan anak muda sangat diperlukan. Pihaknya menunggu waktu berdiskusi dengan Kementerian Agama.
 
"Perbanyak itu dialog anak muda, ormas kepemudaan, kemahasiswaan. Itu mungkin bisa menyelesaikan persoalan," ujar dia.
 
Arven tak ingin ada pemahaman yang salah di tengah masyarakat terkait radikalisme. Pasalnya, radikalisme bukan datang dari kelompok maupun agama tertentu.
 
"Harus kita pilah dulu yang radikal itu bukan agamanya, tapi kita lihat person-nya. Itu yang mesti diedukasi," tungkas dia.
 
Pemosisian Fachrul Razi di kursi menteri agama dianggap sebagai salah satu langkah pemerintahan Presiden Joko Widodo membendung radikalisme.Fachrul memiliki latar belakang militer.
 
Eks Wakil Panglima itu menjadi menteri agama ketiga yang berasal dari TNI. Posisi menag biasanya ditempati tokoh-tokoh agama, terutama dari Nahdlatul Ulama (NU).
 
Salah satu tugas besar yang diamanatkan kepada Fachrulyaitu mengatasi radikalisme, ekonomi umat, industri halal, dan penyelenggaraan haji. Namun, Fachrul memastikan penanganan radikalisme ke depan tidak dengan pendekatan-pendekatan militeristik.
 
"Yang saya lakukan paling utama potensi-potensi kita tutup misalnya
untuk tingkat pendidikan dan kurikulum kita benahi sehingga tidak ada kurikulum yang mungkin memacu munculnya radikalisme," papar Fachrul.
 

 

(OGI)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif