Memulihkan Dampak Hoaks Kuras Biaya dan Waktu

M Sholahadhin Azhar 14 Maret 2018 23:26 WIB
hoax
Memulihkan Dampak Hoaks Kuras Biaya dan Waktu
Puluhan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Nasional Anti Pemberitaan Hoax menggelar aksi dalam car free day. Foto: MI/Agus Mulyawan
Jakarta: Hoaks dianggap sangat masif. Pemulihannya tak bisa dilakukan dalam jangka pendek. Butuh sumber daya yang besar.

"Pemulihannya memakan waktu yang lebih lama dan cost yang besar," kata Gubernur Lemhanas, Letjen (Purn) Agus Widjojo, di kantor Lemhanas, Jakarta Pusat, Rabu, 14 Maret 2018.

Biaya dari dampak hoaks tidak hanya dinilai dari rupiah. Luka-luka psikologis dan perpecahan dalam masyarakat juga menjadi biaya yang mesti ditanggung. 


Menurutnya, pemulihan akan sulit dilakukan ketika hoaks sudah menyebar. Sebab berita bohong akan memberikan label target pada suatu obyek, sehingga jumlah subyek yang terpengaruh akan sangat masif, mirip pelabelan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada zaman dahulu.

Baca: Polda Metro Bentuk Tim Khusus Penumpas Hoaks

Berkaca pada label itu, masyarakat yang terdampak hoaks akan mudah menyimpan dendam. Hal ini pula yang membuat dampak berita palsu sulit disembuhkan. 

"Dan terkadang dengan sifat kita yang emosional, itu akan terbawa. Bahkan terkadang juga sulit untuk dihapuskan," imbuh Agus.

Atas dasar ini, maka lebih baik mencegah hoaks berkembang daripada mengobati. Langkah Polri menangkap gembong Saracen dan MCA diapresiasi. Tindakan ini berarti mencegah hoaks berkembang lebih luas.

Baca: Hoaks Dinilai Lebih Efektif Ketimbang Politik Uang

"Yang kedua adalah kembali pada masyarakat, publik, dan perseorangan itu sendiri untuk bisa mempunyai kesadaran membedakan mana itu berita benar atau berita bohong," kata Agus. 

Menurutnya, mudah bagi masyarakat untuk melakukan kroscek pemberitaan. Sebab ada arus besar dalam informasi yang membuat berita berkaitan antara media satu dan lainnya. Jika berbeda, maka patut dipertanyakan.

Selanjutnya, masyarakat juga perlu melihat sumber pemberitaan. Kredibilitas narasumber sangatlah menentukan validitas karya jurnalistik. Harus dipastikan sampai ke laman sumber berita terlebih dahulu.

Baca: Masyarakat Diminta Tabayyun Sebelum Sebar Informasi

Agus menyebut kelemahan di media sosial karena berita bohong tersebar secara berantai. Sehingga berita beralih tangan beberapa kali hingga ke masyarakat. 

"Sebetulnya sumber berita tersebut sudah tidak diketahui oleh si konsumen berita," tandas Agus.





(DMR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id