IDA Serukan Kampanye Digital Bertagar Bersatu Indonesiaku

Fachri Audhia Hafiez 15 Mei 2018 02:59 WIB
terorisme
IDA Serukan Kampanye Digital Bertagar Bersatu Indonesiaku
Tagar Bersatu Indonesiaku, IDI.
Jakarta: Indonesian Digital Association (IDA) menginisiasi kampanye #BersatuIndonesiaku di berbagai kanal media sosial. Hal ini bertujuan memerangi paham radikalisme dan terorisme di digital.

"Sebagai perhimpunan yang bertujuan menjadi penggerak, pemandu, dan pengawas industri digital Indonesia, IDA merilis kampanye #BersatuIndonesiaku," kata Ketua IDA Ronny W Sugiadha dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id, Selas, 15 Mei 2018.

Ronny mengatakan, kampanye #BersatuIndonesiaku sebagai upaya menyebarkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menggunakan kanal media sosial. Pesan persatuan Indonesia dan semangat keberagaman Bhinneka Tunggal Ika didengungkan dari kampanye tersebut.


"Dengan makin gencarnya isu radikalisme dan terorisme di Indonesia penggunaan kanal digital sebagai jalur utama penebaran teror dan dokrin semakin mengkhawatirkan bagi persatuan bangsa," ucap Ronny.

Menurut Ronny, paham radikalisme kini makin kuat mengincar generasi muda Indonesia yang sudah aktif di dunia digital. Generani muda saat ini, lanjutnya, sudah piawai dalam menggunakan kanal media sosial dan situs berita fiktif sebagai corong propaganda.

“Media mainstream dan media sosial kini tengah dihadapkan dengan penyebaran pesan hoax yang terstruktur dan meluas. Masyarakat perlu menghadapi fenomena ini dengan pesan yang positif, dan berlandaskan spirit Bhinneka Tunggal Ika dari Indonesia. Inilah yang menjadi titik awal ide kampanye #BersatuIndonesiaku," tutur Ronny.

Harapan dari kampanye tersebut, lanjut Ronny, dapat mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi isu di media sosial. Khususnya dalam isu radikalisme dan terorisme.

IDA menghimbau masyarakat pengguna media sosial untuk menjalankan semangat dari kampanye ini dengan langkah-langkah sederhana seperti, tidak menjalin keterikatan (follow, like, atau comment) dengan akun-akun yang tidak jelas kepemilikannya.

"Selain itu, tidak menyebarkan berita yang tidak bisa divalidasi, melaporkan akun-akun yang secara jelas berpihak pada terorisme, dan menyebarkan konten positif mengenai Indonesia dan keberagaman," kata Ronny.

Ronny mengemukakan, selaku asosiasi yang didirikan dan membawahi publisher-publisher digital besar di Indonesia, IDA melihat edukasi kepada masyarakat menjadi luar biasa penting. Hal ini diperlukan untuk menghentikan penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui kanal digital.

Sejalan dengan ide awal dari kampanye #BersatuIndonesiaku, setiap anggota dari IDA sepakat untuk tidak mempublikasi dan berafiliasi dengan kelompok pendukung radikalisme dan terorisme, dengan tidak mengundang mereka sebagai narasumber.

“Kami berharap kampanye #BersatuIndonesiaku dapat memberikan serangkaian dampak positif bagi pemanfaatan media sosial di masyarakat Indonesia. Kami, sebagai pelaku industri digital Indonesia, ingin masyarakat semakin bijak dalam mencari dan menyebarkan informasi di berbagai kanal online, guna meredam suara radikalisme dan terorisme di Tanah Air dan dunia,” ujar CEO Kapan Lagi Youniverse (KLY), Steve Christian.




(SCI)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id