Masinton: 20 Tahun Reformasi Banyak Diisi Penumpang Gelap
Acara buka bersama aktivis 98 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa, 29 Mei 2018. Foto; Medcom.id/Annisa Ayu Artanti
Jakarta: Mantan aktivis 98, Masinton Pasaribu menilai setelah berjalan selama 20 puluh tahun, ternyata masih ada penumpang gelap yang berusaha merusak reformasi.

"Ada penumpang gelap setelah reformasi 20 tahun demokrasi kita sebagai ruang kebebasan lebih sering diisi penumpang gelap," kata Masinton dalam acara buka bersama aktivis 98 di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa, 29 Mei 2018.

Anggota Komisi III ini mengatakan, penumpang gelap itu berniat merusak tatanan demokrasi yang ada dengan menyapaikan isu dan berita yang tidak benar (hoaks) di media sosial. Mereka juga berencana mengubah asas pancasila dengan upaya radikalisme dan terorisme.


"Salah satu caranya dengan cara terorisme. Terorisme aksi, cara tujuannya mengacaukan negara dan mengganti pancasila sebagai dasar," ucap dia.

Menurutnya, Pancasila adalah ideologi paling ideal untuk Indonesia yang memiliki keragaman suku, agama, ras, dan budaya. Oleh karena itu harus dipertahankan. Ia meyakini Pancasila asalah kekuatan bangsa dan terorisme adalah musuh bersama.

"Pancasila sistem lebih baik ketimbang khilafah. Generasi baru ini harus mempertahankan Pancasila. Intinya adalah kekuatan kita di Pancasila. Terorisme (itu salah satu) cara. Cara ini yang kita harus lawan," tutup dia.



(DMR)