Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Presiden Diminta Bekukan UU Cipta Kerja

Nasional presiden jokowi Omnibus Law UU Cipta Kerja
Siti Yona Hukmana • 09 Oktober 2020 10:35
Jakarta: Presiden Joko Widodo (Jokowi) diminta membekukan Undang-Undang Cipta Kerja (UU Ciptaker). Pengesahan aturan dinilai telah membenturkan Polri dengan buruh, mahasiswa, dan masyarakat yang mengakibatkan kerusuhan di sejumlah daerah.
 
"Untuk itu Jokowi perlu segera membekukan UU Cipta Kerja, dengan cara segera menerbitkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu)," kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane melalui keterangan tertulis, Jumat, 9 Oktober 2020.
 
Neta menyebut usulan UU Ciptaker pertama kali disampaikan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil, yang mengadopsi dari sistem hukum Amerika Serikat (AS). Sehingga tak heran jika UU itu tidak sesuai dengan kondisi sosial maupun psikologis masyarakat Indonesia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Bahlil: 153 Perusahaan Siap Masuk RI Usai Omnibus Law Disahkan
 
Menurut Neta, pola pikir dan sikap hidup masyarakat AS yang kapitalis dan individualisme sangat berbeda dengan kondisi masyarakat Indonesia, yakni guyub dan kekeluargaan. UU Ciptaker juga dinilai tidak sesuai dengan Pancasila yang menjadi konsep hidup Bangsa Indonesia.
 
"Tak heran jika pasal-pasal yang muncul di UU Ciptaker itu cenderung tidak berpihak pada rakyat sebagai buruh dan sangat berpihak pada pengusaha dan industri," kata Neta.
 
Dia mengatakan keberpihakan terhadap pengusaha itu dibuktikan dengan pernyataan Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia. Yakni, akan datang 153 perusahaan asing ke Indonesia usai pengesahan UU Ciptaker.
 
Neta menyebut ada dua alasan yang menuntut pembekuan UU Ciptaker. Pertama, roh UU Omnibus Law bersistem negara federal, padahal konsep Indonesia adalah negara kesatuan.
 
"Kedua, roh UU Omnibus Law adalah berasas kapitalis individualisme. Sementara Indonesia berasas Pancasila yang syarat musyawarah, mufakat, dan kekeluargaan," tutup Neta.
 
(ADN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif