Dubes Saudi Dinilai Berpotensi Ganggu Hubungan Indonesia-Arab

M Sholahadhin Azhar 06 Desember 2018 12:31 WIB
gp ansor
Dubes Saudi Dinilai Berpotensi Ganggu Hubungan Indonesia-Arab
Dubes Arab Saudi untuk Indonesia Osama Mohammad Abdullah Al Shuaibi. MI/Bary Fathahilah.
Jakarta: Duta Besar Saudi Arabia, Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi, dinilai tidak pantas menyebut reuni 212 sebagai reaksi atas pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Sikap Osama itu dinilai dapat mempengaruhi hubungan baik antara Indonesia dan Arab Saudi.

"Sikap Dubes Saudi Arabia berpotensi mengganggu hubungan baik yang selama ini sudah terjalin," kata Ketua DPP PDI Perjuangan Hamka Haq melalui keterangan tertulis, Kamis, 6 Desember 2018.

Menurut dia, Dubes Saudi seharusnya tak perlu bereaksi atas reuni 212. Apalagi, mengkaitkannya dengan pembakaran bendera HTI. 


Hamka menilai sikap Osama melanggar kode etik dan prinsip diplomatik. Dia meminta pihak Saudi mengevaluasi Osama. Dengan begitu, kejadian serupa tak terulang, karena bisa menggangu hubungan bilateral kedua negara.

"Bukan hanya Pemerintah Republik Indonesia dengan Kerajaan Saudi Arabia, tetapi juga bangsa Indonesia dengan bangsa Saudi Arabia," imbuhnya. 

Baca: Pernyataan Dubes Arab Saudi Memicu Perpecahan

Hamka mendukung respons Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang meminta Kerajaan Saudi memulangkan Osama. Hamka sepakat agar Kerajaan Saudi mengganti Osama dengan pejabat baru.

Dia berharap pejabat baru nanti memahami kode etik diplomasi, dan bijak di media sosial. Tidak ada lagi dubes yang mencampuri urusan bangsa Indonesia.

"PDI Perjuangan percaya, Pemerintahan Jokowi yang responsif dan memegang teguh etika diplomasi politik internasional, akan menindaklanjuti sikap dari PBNU," kata Hamka. 

Hamka juga menyesalkan sikap Osama yang menuding GP Ansor secara tidak langsung sebagai organisasi sesat. PBNU juga telah melayangkan protes keras terkait hal ini.

Ketua PBNU Said Aqil terhina lantaran GP Ansor dikatakan sesat oleh Osama. "PBNU merasa dihina dengan pernyataan ini, karena ini jelas-jelas kesalahan atau tidak mengerti etika diplomasi," kata Said.



(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id