Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Foto: MI/Ramdani
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Foto: MI/Ramdani

Muhammadiyah Menyangsikan Kapabilitas Nadiem jadi Mendikbud

Nasional Kabinet Jokowi-Maruf
Sri Yanti Nainggolan • 26 Oktober 2019 14:33
Jakarta: Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fahmi Salim masih sangsi dengan penunjukkan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Menurut dia, latar belakang Nadiem dinilai kurang tepat untuk mengurusi sektor itu.
 
Fahmi mengatakan, posisi mendikbud memang biasanya diisi oleh kader Muhammadiyah. Sebab, menurut dia, selama ini Muhammadiyah bersinggungan langsung dengan hajat besar, terutama di bidang agama, pendidikan, sosial, dan kesehatan. Sementara, Nadiem dipilih karena mumpuni di bidang teknologi.
 
"(Kemendikbud) bukan soal teknologi. Karena ini membicarakan moralitas, membentuk iman yang taqwa, berkarakter," kata Fahmi dalam diskusi MNC Trijaya.fm, Sabtu, 26 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fahmi tak memungkiri ada kekecewaan dari Muhammadiyah terkait pemilihan Nadiem sebagai mendikbud. Namun, ia menegaskan, hal itu tak berhubungan dengan kegaduhan politik.
 
"Kalaupun ada kecewa, pasti. Sebagaimana NU merasa dicuri portofolio dari Kementerian Agama, wajar kalau kecewa berat," ujarnya.
 
Kendati demikian, ia tetap berharap besar pada Nadiem dalam mengurus pendidikan bangsa, terutama yang tengah menjadi fokus masyarakat sekarang, yaitu terkait pendidikan karakter dan homeschooling. Menurutnya, tren sekarang bukan sekolah formal tapi homeschooling.
 
"Jadi perkembangan dunia pendidikan harus mengakomodasi kepentingan orang tua dan masyarakat di luar sekolah formal," pungkas dia.
 
Presiden Joko Widodo sebelumnya mengaku memiliki alasan khusus mengapa ia menunjuk Nadiem mengisi pos menteri tersebut. Salah satunya, yakni kemampuan Nadiem di bidang tekonologi untuk menangani sistem di pendidikan.
 
Jokowi mengatakan dibutuhkan penguasaan data untuk menghadapi era yang tak bisa diprediksi saat ini. Oleh karena itu, diperlukan sosok yang berpengalaman di bidang tersebut sehingga bisa memprediksi masa depan.
 
"Ini kenapa pilih Mas Nadiem Makarim. (Kita) perlu memprediksi selera konsumen, perlu memprediksi selera politik, perlu prediksi bagaimana perilaku-perilaku anak muda sekarang, misalnya," kata Jokowi di Istana Merdeka, Kamis, 24 Oktober 2019.
 

(DMR)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif