TKN Komitmen Jaga Tren Positif Jokowi-Ma'ruf
Wakil Direktur Penggalangan dan Jaringan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Martin Manurung. (Metro TV)
Jakarta: Saiful Mujani Research Center (SMRC) menempatkan elektabilitas Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf mencapai 60,4 persen sedangkan Prabowo-Sandi hanya 29,8 persen.

Wakil Direktur Penggalangan dan Jaringan Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Martin Manurung menyambut baik hasil tersebut. Ia menyebut hasil survei SMRC merupakan perkembangan yang cukup menggembirakan.

"Kalau dibandingkan dengan petahana sebelumnya seperti SBY atau Megawati, capaian yang didapatkan Jokowi relatif lebih baik. Tentu ini menjadi sesuatu yang menggembirakan," ujarnya dalam Primetime News Metro TV, Senin, 8 Oktober 2018.


Martin mengungkapkan tren positif yang dibangun oleh Jokowi akan membuat peluang menang calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 semakin besar. Kendati, ia mengamini bahwa posisi ini bukanlah yang paling aman.

Menurut Martin hal utama yang saat ini harus terus dijaga adalah tingkat kepuasan publik yang cukup tinggi kepada pemerintahan Jokowi. Berdasarkan survei SMRC, 70 persen masyarakat puas akan capaian pemerintah terutama di bidang ekonomi, politik, pertahanan dan keamanan.

"Ini artinya publik merasa aman di bawah pemerintahan Jokowi," ungkapnya.

Martin mengatakan berlanjut atau tidaknya tren positif Jokowi bergantung pada kinerja pemerintah. Pemerintah perlu menjaga momentum ini dengan terus berkoordinasi secara solid terutama terkait kebijakan-kebijakan penting bagi publik.

Salah satu cara, kata dia, harus ada kesatuan di kalangan pemerintah misalnya untuk tidak narsistik di media massa terkait kebijakan penting alih-alih hanya diselesaikan di level rapat kabinet.

"Jangan cari panggung untuk diri sendiri tapi melihat bahwa kita ini satu kesatuan yaitu pemerintahan Jokowi yang harus dipelihara 6-7 bulan ke depan," katanya.

Martin menilai rekam jejak pemerintahan Jokowi termasuk yang konsisten dan stabil dalam pengambilan kebijakan sehingga ia memprediksi akan sedikit sekali celah yang memungkinkan pemerintah melakukan kesalahan.

Oposisi bisa saja membangun persepsi melalui opini tidak kredibel tentang kondisi perekonomian negara. Namun jika dilihat secara utuh isu seperti tempe setipis ATM sampai dengan inflasi tak seburuk apa yang dituduhkan oposisi.

"Artinya kita tidak sekadar menjawab tudingan penantang tetapi secara proaktif menjelaskan capaian pemerintah di berbagai bidang. Kalau hanya menjawab tudingan capaian pemerintah tidak tersosialisasikan dengan baik," jelas dia.





(MEL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id