Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dok. Tangkapan layar dari YouTube SBY
Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Dok. Tangkapan layar dari YouTube SBY

Penjelasan Lengkap SBY Menyikapi KLB Partai Demokrat

Nasional partai politik sby partai demokrat kongres partai demokrat isu politik
Anggi Tondi Martaon • 06 Maret 2021 00:14
Jakarta: Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terpukul terhadap penyelenggaraan Kongres Luar Biasa (KLB) Demokrat di Deli Serdang, Sumatra Utara (Sumut). Selain mengancam posisi Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum (Ketum) Demokrat, kegiatan tersebut juga melibatkan orang yang pernah ia berikan jabatan, yaitu Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko.
 
"Saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya (Moeldoko)," kata SBY dalam konferensi pers yang dilakukan secara virtual, Jumat, 5 Maret 2021.
 
Presiden ke-6 Republik Indonesia itu pun menyesali keputusannya memberikan sejumlah jabatan ke Moeldoko. Dia memohon ampun atas keputusan tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya memohon ampun kehadirat Allah SWT, tuhan yang maha kuasa atas kesalahan saya itu," ujar dia.
 
Baca: SBY Geram, Menyesal Pernah Memberi Moeldoko Jabatan
 
Moeldoko dipilih menjadi Panglima TNI saat SBY masih menjabat sebagai Presiden. Dia mengemban jabatan itu pada periode 30 Agustus 2013-8 Juli 2015.

Berikut pidato lengkap SBY yang dikutip dari akun YouTube miliknya, yaitu:

Hari ini, Partai Demokrat berkabung. Sebenarnya bangsa Indonesia juga bergabung karena akal sehat telah mati. Sementara keadilan, supremasi hukum, dan demokrasi sedang diuji.
 
Hari ini, 5 Maret 2021, KLB Partai Demokrat abal-abal, KLB yang tidak sah dan tidak legal telah digelar di Deli Serdang, Sumatera Utara. KLB tersebut telah menobatkan KSP Moeldoko, seorang pejabat pemerintahan aktif berada di lingkar dalam lembaga kepresidenan, bukan kader Partai Demokrat alias pihak eksternal partai menjadi ketua umum Partai Demokrat. Mendongkel dan merebutnya dari ketua umum Partai Demokrat yang sah, yang satu tahun yang lalu telah diresmikan oleh negara dan pemerintah.
 
Satu bulan yang lalu, kita semua masih ingat ketika Ketua Umum Partai Demokrat AHY secara resmi mengirimkan surat kepada yang mulia Bapak Presiden Jokowi tentang keterlibatan KSP Moeldoko dalam gerakan penggulingan kepemimpinan Partai Demokrat yang sah. Dan, setelah itu Ketum AHY juga menyampaikan kepada publik terkait kudeta Partai Demokrat ini.
 
Banyak tanggapan yang bernada nyinyir dan miring, mereka menyatakan Demokrat hanya mencari sensasi, Demokrat hanya playing victim. KSP Moeldoko mengatakan itu hanya ngopi ngopi. Pelaku gerakan mengatakan itu hanya rapat-rapat biasa.
 
Sementara itu, kita juga masih ingat ada juga yang punya keyakinan bahwa KSP Moeldoko pasti mendapatkan sanksi dari atasannya karena ulahnya itu. Ada pula yang mengatakan KLB ilegal tersebut tidak mungkin diberikan izin dan pasti akan dibubarkan oleh pihak kepolisian. Negara pun tidak mungkin membiarkan dan membenarkan. Itu tanggapan dan komentar sekitar satu bulan yang lalu.
 
Tetapi hari ini, sejarah telah mengabadikan apa yang terjadi di negara yang kita cintai ini. Memang banyak yang tercengang, banyak yang tidak percaya bahwa KSP Moeldoko yang bersekongkol dengan orang dalam benar-benar tega dan dengan darah dingin melakukan kudeta ini.
 
Sebuah perebutan kepemimpinan yang tidak terpuji, jauh dari sikap ksatria, dan nilai-nilai moral, dan hanya mendatangkan rasa malu bagi perwira dan prajurit yang pernah bertugas di jajaran Tentara Nasional Indonesia.
 
Termasuk rasa malu dan rasa bersalah saya yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan kepadanya. Saya memohon ampun kehadirat Allah SWT, Tuhan yang maha kuasa atas kesalahan saya itu.
 
 
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif