Tahun Politik, Wartawan Dihadapkan pada Dilema
Pemimpin Redaksi Medcom.id Abdul Kohar (kedua dari kanan). Foto: Medcom.id/M Al Hasan.
Jakarta: Media dihadapkan dengan posisi sulit menjelang Pemilu 2019. Dalam menjalankan tugasnya, media kerap dianggap tidak netral dan cenderung menjadi alat untuk menggiring opini publik.

Jurnalis senior Abdul Kohar mengatakan wartawan bisa dipastikan dihadapkan dengan dilema ini. Keberpihakan kepada suatu kubu dipastikan ada dan tidak dapat dihindari.

"Ada situasi di mana posisi agak sulit bersikap," kata Kohar di  dalam diskusi di Universitas Islam As-Syafi'iyah, Jatiwaringin, Jakarta Timur, Selasa, 10 Juli 2018.


Pemimpin Redaksi Medcom.id itu menjelaskan independensi dan netralitas media adalah suatu hal yang berbeda. "Independen tidak mesti netral," jelas dia.

Media dikatakan independen karena bukan bagian dari institusi tertentu. Ia nonpartisan. Di sisi lain, media tidak harus netral karena berfungsi untuk mendorong fakta kepada masyarakat.

"Ada konflik di masyarakat, konflik sudah terang nyata yang haq versus batil. Itu kalau ada penerbitan membela yang batil atau diam saja, tidak membela haq atau batil, itu salah. Dengan prinsip netralitas, pasti tidak akan berbicara apa-apa, tetapi kan tidak seperti itu. Sebuah penerbitan koran atau online maka dia akan menyuarakan, 'ini lo kebenaran', termasuk juga di politik ada kecenderungan kebenaran-kebenaran politik tertentu," ujar Kohar.

Meski demikian, Abdul Kohar menjamin pemberitaan di media mainstream masih bisa dijadikan acuan wajib masyarakat untuk memeriksa kebenaran peritiwa. Ia meyakinkan media mainstream masih berada di dalam koridor jurnalistik yang benar.

"Ada standar kompetensi yang harus kami penuhi. Oleh karenanya, yakin saja media mainstream itu masih bekerja sesuai koridor jurnalistik dan dia berfungsi sebagai penjaga. Kalau sedikit muji ya biasalah, yang penting tidak berbohong. Kembali lagi kendali ada di pemirsa. Kalau tidak suka ya tinggal pindah saja," tutur Kohar.

Senada, jurnalis senior Republika Elba Damhuri mengatakan memang susah bagi media untuk netral di tahun politik. Namun, media tetap akan menjadi penyeimbang.

Baca: Zilvia Iskandar Beberkan Kiat Jadi Jurnalis

"Tugas media mengingatkan kepada siapa pun dan rukun iman kita jurnalis adalah objektifitas. Media bukan untuk menggiring, tapi untuk memberikan informasi, hitam putih dari seorang figur," ujar Elba.

Elba juga mengingatkan mayoritas konflik bukan dipicu oleh pemberitaan media mainstream. Ia menghimbau masyarakat lebih mewaspadai buzzer media sosial. 

"Buzzer memanfaatkan jumlah masa yang banyak untuk berbagai kepentingan. Perang itu terjadi di media sosial bukan media massa. Ada fungsi buzzer di balik itu semua," ujar Elba.




(OGI)