Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri. MI/Ramdani
Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri. MI/Ramdani

Pertemuan Megawati-Prabowo Dinilai Sarat Politik

Nasional Prabowo Subianto Megawati Soekarnoputri Pemilu 2024 Pilpres 2024
Juven Martua Sitompul • 07 Mei 2022 10:35
Jakarta: Pertemuan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dinilai sarat politik. Keduanya diyakini membahas persiapan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 yang dibungkus agenda silaturahmi.
 
"Ya pasti dikaitkan dengan pilpres, kalau cuma silaturahmi biasa bisa lewat telepon, video call, beres kan? Pasti ada kaitannya dengan 2024," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno saat dihubungi, Jumat, 6 Mei 2022.
 
Kendati pertemuan itu tidak diakui sebagai persiapan Pilpres 2024, kata dia, pertemuan itu tak lepas dari faktor kedekatan antara Megawati dan Prabowo. "Memang enggak ada (obrolan) pilpres, tapi silaturahmi ini kan semakin menegaskan bahwa Prabowo cukup lengket dengan Megawati," ujarnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Adi, silaturahmi politik itu bisa sebagai pencanangan duet Prabowo-Puan yang beberapa saat lalu mendapati hasil positif berdasarkan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Artinya, duet Prabowo-Puan itu relatif leading.
 
"Setidaknya dua orang ini sudah sama-sama mulai dikenal oleh publik terkait 2024. Jadi silaturahmi politik itu kemarin seakan-akan menambah amunisi supaya publik itu terus bicara tentang kemungkinan Prabowo-Puan bisa duet bareng," tegas dia.
 
Baca: Silaturahmi Prabowo di Jatim Dinilai Menguntungkan
 
SMRC menyurvei pertarungan pasangan Prabowo Subianto-Puan Maharani melawan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono. Hasilnya, Prabowo-Puan mendapatkan 41 persen, Anies-AHY 37,9 persen, dan 21 persen belum menentukan pilihan.
 
Prabowo-Puan juga disimulasikan melawan Ganjar-Airlangga. Hasilnya, Prabowo-Puan didukung 39,3 persen, Ganjar-Airlangga 40,3 persen, dan 20,5 persen yang belum menentukan pilihan.

Sulit Tentukan Capres

Pengamat politik Yunarto Widjaja menilai masyarakat sulit menentukan pilihan meskipun ada kemungkinan paslon tersebut. Menurut dia, 'perkawinan' dua partai pemenang pemilu dan runner up akan sulit menentukan siapa capres dan cawapresnya.
 
“PDIP surveinya jauh di atas Gerindra dan sulit buat saya membayangkan partai pemenang pertama itu mau hanya menjadi cawapres. Saya juga tidak bisa membayangkan, Pak Prabowo karena menyadari partainya hanya peringkat ke-2 mau mengalah sebagai cawapres, karena Prabowo kapasitasnya sebagai capres” kata Yunarto.
 
Dia menilai 'perkawinan' PDIP dan Gerindra saling menguntungkan. Kedua partai ini memilih bergabung karena positioning PDIP di atas Gerindra dan di sisi lain elektabilitas Puan masih di bawah Prabowo.
 
Duet PDIP dan Gerindra pernah terjadi pada Pilpres 2009 di mana kedua partai memasangkan Megawati Soekarno Putri dan Prabowo. Bahkan duet itu diseremonikan dengan Perjanjian Batu Tulis. Namun, pada Pemilu 2014, PDIP justru mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif